Tampilkan postingan dengan label purinjanra2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label purinjanra2011. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 September 2011

Preparing for Fall


Berita bagus yang kubaca di koran Lawrence: The Journal-World; ternyata memang pada musim-musim begini banyak orang mengalami flu dan bersin-bersin, yang biasanya dilengkapi dengan mata gatal dan berair serta bersin berulang-ulang.. Kemungkinan juga ada sedikit gejala hay fever, yaitu flu yang ditimbulkan oleh penumpukan serbuk sari bunga-bungaan yang sudah mendekam lama di dalam saluran pernafasan manusia, sehingga pada suatu saat ketika kemampuan tubuh untuk mentoleransinya sudah tidak mampu lagi, terjadi lah flu jenis ini.. Memang rasanya sangat menyiksa sekalli, saat semua orang tengah menikmati suasana ruang lobby yang penuh dengan berbagai macam tipe sosialisasi antar penghuni, cuma aku sendiri yang bersin-bersin. Dan bersin nya ini juga tidak dengan suara merdu sopran 3/4.. Tapi suara achuu... yang sangat lantang dan biasanya berulang sampai 5-6 kali, interval 10-30 detik antar bersin (bisa gak dihitung kekerapan sama amplitudo nya??) He he he...


Nah, setelah membaca berita di koran yang kudapatkan dengan gratis tersebut (di masing-masing gedung perkuliahan dan perpustakaan ada booth khusus untuk koran-koran nasional dan lokal yang bisa diakses dengan menggunakan KU-Card--gratis) dan kemudian juga memperhatikan orang-orang di sekitar, memang banyak juga yang mengalami bersin-bersin ini. Jadi, yaaah, memang sudah gejala umum dan normal lah.. AKu mungkin juga mengalami ini beberapa kali lagi sebelum benar-benar menyesuaikan diri sepenuhnya dengan kondisi di sini (ingat, jetlag sudah berhasil dikalahkan beberapa minggu yang lalu)..

Newspaper Box

Tadi pagi aku melakukan jogging untuk pertama kalinya di Kansas ini. Menyusuri jalur dari Engel Road di Daisy Hill, masuk ke perumahan dekat kampus, menuju ke Jayhawk Boulevard. Pertama-tama dengan menggunakan sepeda, sampai ke depan Budig Hall. Setelah memarkir sepeda dan mengaitkan rantainya di tempat yang disediakan khusus untuk itu, aku mulai jogging. Kebetulan kemaren beli sepatu bekas di Salvation Army yang ukurannya pas di kaki (walaupun akhirnya kusadar kalau sepatu yang kubeli itu sepatu cewek). Jogging pagi itu cukup dingin juga, karena cuaca mulai menyesuaikan dengan awal musim gugur yang jatuhnya kira-kira satu atau dua minggu lagi. Karena lokasi Jayhawk Boulevard yang ada di ketinggian, maka bisa kulihat di lokasi yang lebih rendah, seperti downtown, langitnya masih berkabut. Sementara matahari masih malu-malu muncul di ufuk timur (eh, di sini masih di timur gak ya terbit mataharinya??). Jogging dimulai dengan rute yang dekat-dekat saja dulu, yaitu dari Budig Hall, menyusuri sepanjang Jayhawk Boulevard, terus sampai ke Oread Hotel. Sampai di sana rencanya mau belok ke kiri dan lewat ke Memorial Drive, mau melihat Potter Lake, yang katanya menjai salah satu lokasi tempat piknik bagi orang-orang di Lawrence ini ketika musim panas. Tapi maksudku mau jogging ke arah sana bukan untuk tujuan untuk piknik, tapi untuk melihat, apakah tempat tersebut menjadi salah satu lokasi berkumpulnya burung-burung air.. 

Potter Lake

Tapi sayang sekali, mungkin karena sudah lama tidak melakukan jogging, atau mungkin juga karena sudah didahului dengan bersepeda yang cukup jauh, saat sampai di Oread, aku tidak sanggup lagi untuk meneruskan jogging dengan rute jalan yang nantinya akan berputar naik turun sebelum keluar di jalan samping Snow Hall di Jayhawk Boulevard. Terpaksa aku balik arah lagi, menuju ke tempat semula dan tidak jadi melihat burung-burung yang ada di sana. Walaupun tidak berhasil dengan tujuan ini, sepertinya kekecewaanku cukup terobati dengan banyaknya burung-burung jenis baru yang sebelumnya tidak pernah kulihat di siang hari. Beberapa di antaranya adalah Blue-Jay (Cyanocitta cristata), yang memang umum di sini, tapi baru pagi tadi kulihat dengan jelas mematuk-matuk makanananya di bawah pohon maple.. Lalu juga ada beberapa European Starling (Sturnus vulgaris) yang sering ditemui di lokasi migrannya di negara kita, Savannah Sparrow (Passerculus sandwichensis) yang mirip dengan burung gereja biasa, tapi berukuran lebih besar dan lebih kecoklatan, Lark Sparrow (Chondestes grammacus) yang masih saudara dengan burung gereja biasa, tapi mukanya mempunyai garis-garis putih yang lebih , Orchard Oriole (Icterus spurius) yang mirip dengan Scarlet Minivet (Pericrocotus flammeus) di dalam Panduan Burung-burung Sumatera Kalimantan, Jawa dan Bali-nya MacKinnon, Northern Mockingbird (Mimus polyglottos)--kalau dengar nama burung ini, paling tidak pasti pernah dengar judul lagunya Eminem kan?? Burungnya sendiri berwarna keabu-abuan dan berukuran sebesar merpati. Diberi nama Mockingbird karena mungkin sifatnya yang sering mengganggu (mocking) jenis-jenis lain, terkait dengan proses rebutan makanan. Terus ada si cantik Northern Cardinal (Cardinalis cardinalis) yang sebenarnya berwarna merah total pada jantannya, tapi karena yang kulihat kemungkinan masih juvenil, sehingga warna merahnya masih belum begitu sempurna, masih bercampur dengan warna coklat. Masih ada American Robin (Turdus migratorius), jenis migran yang banyak kulihat sampai jalan-jalan di tanah berumput sepanjang taman di kota Lawrence ini. Jumlahnya banyak dan cenderung tidak takut dengan kehadiran manusia, walaupun tetap akan terbang kalau didekati lebih dari dua meter. Pengamatan sederhana hari itu, yang mengandalkan mata dan kejelian telinga menangkap suara mereka, diakhir dengan melihat sejenis gagak (Crow-Corvus spp) yan gtidak bisa kubedakan apakah itu American Crow atau Common Crow karena warnanya yang sama-sama hitam total serta ukurannya yang memang besar.. Benar-benar cantik...

Blue Jay
European Starling
Savannah Sparrow
Lark Sparrow
Orchard Oriole
Northern Mockingbird
Northern Cardinal

American Robin
American Crow
Sebenarnya keinginan untuk jogging sembari birdwatching ini dilatari kejadian saat aku pergi ke rumah pembimbingku, Rob Moyle untuk ikutan pesta Barbeque yang diadakan khusus untuk menyambut semua anggota Museum yang sudah berkumpul lengkap di Fall Semester tersebut. Di saat ngobrol-ngobrol dengan Carl dan seorang teman dari Vietnam yang kebetulan datang untuk melakukan study di Museum, datanglah seekor burung mungil berwarna hijau yang terbang mengambang di sekitar birdfeeding tray. Rupanya, itulah kolibri atau hummingbird, burung yang punya kemampuan untuk terbang mengambang di udara karena mampu mengepakkan sayapnya hampir 300 kali per menit. Kata orang Vietnam yang ngobrol bersama ku itu, jenisnya adalah Green-breasted Mango Hummingbird (Anthracothorax prevostii) individu betinanya. Hanya seekor individu betina yang datang berulang-ulang ke birdfeeder tersebut. Memang kalau tidak diamati dengan baik, kelihatannya seperti ngengat yang terbang mengambang. Tapi, sungguh, itulah pengalaman paling mengesankan yang pernah kudapatkan karena burung ini hanya ada di kawasan Amerika dan Amerika Selatan.. Rrruuuaaarr biasaaa.... Pengen melakukan hal yang sama dengan orang-orang di sini, yaitu menyediakan tempat makanan untuk burung-burung liat, agar mereka bisa datang dengan bebas dan bisa diamati bermain-main di halaman rumah kita sendiri... Hhhaaaaa..... AKu sampai jejeritan di halaman belakang rumah Rob.. Gak peduli orang-orang yang sudah pada kumpul jadi melihat ke arah ku...

Hummingbird at feeder tray


Satu lagi binatang yang paling banyak kuamati di Lawrence ini, tapi bukan burung, yaitu bajing atau squirrel. Mereka bermain dengan sangat bebasnya di ruang-ruang hijau di kampus, berlarian di antara rerumputan yang terpotong rapi, kadang-kadang juga memanjat batang pohon untuk masuk ke sarangnya yang berupa lubang di batang yang berukuran besar. Populasi mereka terbilang berlimpah ruah di Lawrence ini, karena di samping tidak ada orang yang menganggu mereka, tumbuhan yang menjadi sumber makanan mereka (seperti Quercus) banyak ditanam orang sebagai pohon pelindung, sehingga mereka tidak pernah kekurangan makanan. Di saat-saat menuju musim gugur dan selanjutnya musim dingin ini, biasanya mereka aktif sekali mengumpulkan bahan makanan untuk ditumpuk menghadapi musim dingin. Cuman beberapa kali kulihat ada bangkai mereka yang tidak sengaja tergilas saat ada pengendara mobil lewat dan tidak menyadari kehadiran mereka yang tengah melintas jalan. Dan juga baru tadi pagi kulihat ada sekumpulan kelinci liar berwarna coklat kehitaman dengan ujung telinganya yang pendek berwarna hitam berlarian di halaman rumah yang ada di sebelah selatan Jayhawk Boulevard.. Rumah-rumah aneh para fraternity yang mereknya selalu berdasarkan abjad Romawi Kuno.. Phi Teta Phi, Epsilon Gamma, dan lain-lain...

Eastern Gray-Squirrel

Wild Rabbit


Pokoknya saat-saat menjelang musim gugur ini adalah saat yang sangat menyenangkan untuk keluar rumah dan mengamati kekayaan jenis hewan yang ada di sekitar kampus ku ini... Mudah-mudahan besok, dengan berbekal buku pantuan Peterson ini aku akan bisa mendapatkan lebih banyak jenis lagi...

Musim gugur... Jangan terlalu cepat berlalu.....



Note: gambar-gambar diambil dari berbagai sumber di internet, karena belum bawa kamera ke Lawrence sini...

Minggu, 04 September 2011

Failures


Melihat jauh ke dalam lubuk hati seseorang mungkin adalah cara terbaik untuk mengetahui apakah dia berhasil atau tidak memperjuangkan apa yang dia inginkan di dalam hidupnya... Memang tidak mudah untuk mengetahui seseorang itu telah behasil atau tidak berdasarkan apa yang dirasakan oleh hatinya, karena perasaan bukan sesuatu yang bisa dengan kasat mata dilihat dari seseorang.... Aku saat ini juga merasakan banyak hal yang masih menjadi kekurangan, atau sebutlah kegagalan. Mungkin banyak yang menyangka, dengan sampainya aku di sini, merupakan salah satu titik tolak keberhasilan atau kesuksesan.. Padahal menurutku, keberadaanku di sini menjadi salah satu moment yang paling menakutkan, karena semuanya serba fifty-fitty, yang kuartikan, bisa saja berhasil atau bisa saja malah mendapatkan kenyataan yang sangat jauh berbeda dengan apa yang kuharapkan...

Postingan kali ini beranjak dari renungan di pagi ini, saat terbangun di Shubuh waktu setempat... Aku mengingat kembali moment pertama saat mulai bergerak dari Kota Padang yang menjadi asalku sampai beberapa saat yang lalu aku tertidur dan terbangun di pagi ini... Entah karena menjadi super sensitif dengan kondisi yang kurasakan kurang kondusif lagi atau entah karena apa, hal yang kemaren remeh temeh, mendadak berubah menjadi kegagalan super besar yang kayaknya tidak bisa kumaafkan...

1. Rendang yang disita di Bandara Houston.. Sampai sekarang aku masih tidak habis pikir, kenapasaat ditanya oleh petugas bandara di bagian pintu keluar setelah baggage claim, aku dengan jujurnya bilang bahwa rendang berasal dari daging sapi?? Kenapa aku tidak membaca dengan detail peraturan yang menyebutkan bahwa daging sapi Asia adalah sesuatu yang terlarang masuk ke Amerika (walaupun tentu dengan alasan yang kuanggap konyol). Yang kusesali dan kuanggap menjadi kegagalanku di sini adalah, kenapa aku tidak bohong tentang hal itu? Kenapa tidak kubilang bahwa rendang berasal dari ikan atau dari telur atau apalah.....

Mungkin banyak yang akan bilang, ah, kan cuman rendang?? Iya memang cuma rendang... Tapi saat ini, di kondisi low-morale dan berada dalam kesendirian seperti ini, rendang menjadi salah satu hal yang agak emosional, identitas kedaerahan yang melambangkan keteguhan semangat dalam merantau (rendang adalah persediaan makana utama pria-pria minang ketika dahulunya pergi merantau ke luar daerahnya). Rendang juga kuanggap sebagai bentuk keanggunan pribadi para wanita minang yang dengan tekunnya membuat masakan super rumit pengolahannya itu..
Ah, andai saja aku berbohong saat itu.....



2. Raibnya Nokia C7-ku
Aku masih ingat betapa senangnya aku melihat poster besar HP merek ini terpampang di Bandara International Dubai. Memegangnya sembari mendengarkan apapun suara yang dihasilkan dari dalamnya menjadi satu hal yang sangat intens saat itu. Apalagi beberapa detil dokumentasi perjalanan sudah kubuat dengan menggunakan kemampuan kameranya. Sangat sayang sekali, aku menghilangkannya di Bandara Houston tanpa sedikitpun bisa mengingat dimana pastinya aku mulai tidak memegangnya lagi.. AKu tahu, ini mungkin akan menjadi paham kecintaan yang sangat berat kepada kebendaan, bisa merujuk nantinya kepada ketidakrelaan pada apa yang sudah ditakdirkan oleh Illahi... Namun, kembali, entah karena memang sedang berada pada derajat mellow yang sudah keterlaluan, aku kembali menyesali diri, kenapa saat berada di Bandara Houston itu sama sekali tidak fokus pada barang-barang penting yang nantinya akan kuperlukan dalam menyokong kehidupan awalku di Kansas ini.... Kenapa aku tidak perhatian dengan semua detil hal yang terjadi di sekitarku saat itu?? Saat-saat menghilangnya Nokia C7 yang kubeli beberapa minggu sebelum keberangkatan ku ke Kansas ini, selalu diliputi oleh kabut, sehingga aku tidak bisa mengingat, apakah memang aku yang teledor, atau ada orang yang memang sengaja mengambilnya dariku, atau karena memang faktor lain yang tidak bisa kucegah untuk terjadi.... Hhhhh.... Aku mungkin harus lebih banyak belajar untuk ikhlas....

Nokia Seri C7



3. Bicycle
Mengendarai sepeda merupakan salah satu kebiasaan bagi mahasiswa di KU, yang tentunya akan mempercepat pergerakan dari satu tempat ke tempat lain. Aku sudah merasakan keinginan yang sangat mendalam untuk memiliki salah satunya sejak hari pertama menjejakan kaki di kampus Lawrence ini... Dan sudah sejak beberapa hari ini aku berusaha untuk mendapatkan salah satunya, yang used atau bekas saja.. Sudah beberapa kali surfing ke craiglist.com untuk mendapatkan sepeda bekas yang bagus... Beberapa terlihat sangat menarik dan berhasil mendapatkan feedback dari orang yang akan menjualnya dengan harga yang bagus, tapi kembali banyak hal yang merintangi, seperti yang punya itu tinggal jauh di luar kota Lawrence, sehingga aku tidak mungkin dalam keadaan sekarang untuk mencapainya. Beberapa pemilik sepeda dari Lawrence yang ingin menjual sepedanya pun juga mengajuan syarat untuk ditelepon terlebih dahulu sebelum mengadakan transaksi.. Akh, kembali mengingatkanku pada kegagalan keduaku.... Paling tidak, keterlambatanku dalam mengusahakan apapun yang mungkin untuk mendapatkan sebuah sepeda, menjadi jatuh ke dalam wacana kegagalan diri.... Harusnya aku sudah mendapatkannya beberapa hari yang lalu dengan menggunakan berbagai cara yang mungkin untuk itu....


4. Me, myself, my failure
Aku seringkali membandingkan diri dengan setiap orang yang kutemui. Dalam hal apapun. Aku tahu bahwa bersifat iri dalam hal yang keduniaan akan lebih banyak membawa kesengsaraan.... Tapi memang apa daya, karena manusia adalah makhluk yang paling kompleks secara emosional, sehingga kalaupun harus di-treatment dengan terapi psikologi tingkat tinggi agar tidak terjatuh ke dalam sifat yang merugikan ini, dia akan selalu kembali dan kembali pada keadaan ingin menjadi lebih dari orang lain.. Mungkin karena memang manusia tidak sempurna, selalu berkeinginan untuk mencari kesempurnaan dan cenderung untuk melihat kelebihan seseorang adalah kekurangan bagi dirinya dan berkeinginan untuk mencapainya. Intinya, aku selalu merasa iri dengan siapapun yang ada di sekitarku... Aku ingin punya apa yang mereka punya, aku menghendaki apa yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada mereka, tapi tidak kepadaku... Aku sukar untuk melihat apa alasannya aku tidak mempunyai kemampuan yang mereka punya,benda yang mereka miliki atau keadaan yang mereka dapatkan, karena aku dan mereka secara fisik sama tiada beda...


Aku tahu bahwa sebenarnya aku mempunyai potensi sebagai orang yang akan memperjuangkan segala sesuatunya sampai akhir... Cuma, kembali lagi pada any circumstance, dimana grafik emosionalku tidak selalu pada posisi di atas yang memungkinkan aku menafikkan semua energi negatif yang datang mendera.... Aku ingin lihat ke depan, apakah hantu berkedok kegagalan ini dapat kuenyahkan dari pikiran dan perasaanku....

Rabu, 24 Agustus 2011

Very First Day on Course


Aku terkena flu lagi....

Sejak tinggal di McCollum ini, aku selalu menderita bersin-bersin yang berkepanjangan, hidung meler dan mata merah. Aku rasa karena faktor jetlag yang belum sepenuhnya hilang akibat pergantian daerah geografis belum bisa ditolerir oleh kinerja tubuh. Tapi sebagian teman Asia lain, alumni McCollum, bilang karena dormitory yang satu itu dingin udara di dalamnya udah kelewat ambang batas untuk manusia tropis macam aku ini....

Jadilah tiap ada di ruang lobby ini untuk mengakses internet aku bersin beberapa kali berturut-turut, diikuti dengan pandangan rese' dari beberapa "chicks" yang juga lagi ngenet di sekitar ku... Di kamar juga bersin.. Di bathroom juga bersin.. Lewat di hallway menuju ke main room juga bersin.. Udara dingin memang sepertinya jadi pemicu utama dari flu kontemporer ini. Belakangan saja aku baru menemukan sedikit solusi yang lumayan ampuh, minyak angin aroma terapi Freshcare yang sempat kubawa satu botol ke Amrik sini... Itupun berkat anjuran dari Mardoni, mahasiswa angkatan 2004 yang dulu pernah memakaikannya ke diriku waktu lagi pegal-pegal. Aroma hangat dan wanginya paling tidak membuyarkan konsentrasi kompresi di belakang tonsil ku, sehingga bisa menunda bersin, paling tidak sampai hangatnya habis...


Aku juga menemukan bahwa faktor dingin yang menggigit dan membuatku menggigil ini bisa ditekan dengan menggunakan lotion untuk tubuh dan wajah. Ini karena semalam aku berbincang-bincang dengan Bapak yang dari Malaysia yang beberapa hari yang lalu aku temui di dapur Islamic Center (for the record: nama beliau bukan Marlin Dian Laksitorini.. Yang namanya kusebut barusan adalah seorang wanita asal Jawa, kemungkinan istri Beliau. Sedangkan nama di Bapak itu sendiri aku juga gak tahu--Mungkin lupa, aku kan pelupa). Efek dari lotion ini barusan saja kurasakan, karena ketika bangun tadi pagi untuk sahur dan beruduk, dinginnya terasa minta ampun. Setelah shalat Shubuh dan kemudian iseng-iseng kupakai lotion itu di badan dan wajah, mendadak rasa dingin yang kurasakan menjadi jauh berkurang. Mudah-mudahan saja efek ini bukan efek temporer, karena paling tidak aku akan tinggal di McCollum ini selama sebulan atau sampai aku bisa menemukan apartment baru.

Ohya, sebelum berkisah tentang hari pertama kuliah ku kemaren, aku mungkin akan memperkenalkan dua sosok baru yang selalu menemaniku kala ngenet di lobby McCollum. Mereka adalah Daisy dan Mimi... He he he, jangan ngeres dulu.. Mereka bukan hot chick atau gadis-gadis setempat yang kemana-mana di musim panas ini (konfirmasi sekali lagi: ternyata sekarang bukan musim gugur, tapi masih panas. Musim gugur baru mampir tanggal 22 September nanti) selalu pake hotpant n toptank.. Mereka ada dua ekor lalat (langau bagi yang berlidah Minang totok)... Ha ha ha.. Desperately separating as newly wed.. Ha ha ha.. Si Daisy ini suka menggangguku kalau lagi ngenet di bangku yang dekat meja pingpong... Kalau si Mimi suka mampir kalau aku ngenet di meja dinding yang nempel di dekat tangga dorm. Ajaibnya, mereka berdua adalah lalat pertama yang kulihat di Amrik ini dan lebih ajaibnya lagi, mereka berdua gak pernah kena kalau kutemplok pake tangan atau pake alat bantu yang ada. Berhubung di sini gak boleh pake alat-alat kimia untuk membunuh serangga tanpa supervising dari para ahlinya, akhirnya aku mencoba berdamai dengan mereka berdua.. Asal jangan lebay aja menggerayangi tubuhku.... He he he he....

Naah, sekarang masuk ke pengalaman pertama kuliahku. Selasa 22 Agustus, pukul 09.30 waktu Kansas, aku secara resmi kembali menyandang gelar mahasiswa. Pake celana kanvas yang luntur karena tukang cuciku salah ngasih cairan bleaching yang dikiranya adalah softener pengharum, sehingga yang mula-mula berwarna green moss itu mendadak mirip dengan green army.. Kalau kupakai di Indonesia mungkin sudah jadi bahan ketawaan, tapi kalau di sini, seperti yang sudah kubilang, masa bodoh dengan orang lah.. Yang penting style still going on.... He he he.. Sebagai padanannya, kupakai kaos abu-abu berkerah. Dan tidak lupa, jaket kubawa di dalam tas, untuk mengantisipasi jika ruangan kuliahnya juga dingin. Maklum, orang tropis udik yang baru seminggu lebih di Amerika ini belum bisa mengantisipasi kondisi cuaca setempat.

Setelah pede dengan style tersebut, aku lalu melangkah ke luar menuju ke halaman McCollum, mencegat bis kampus KU yang berwarna biru royo-royo. Selama hari-hari aktif kuliah dari Senin sampai Jum'at, bis ini akan datang sekali 10 menit. Kebetulan pas aku sampai di halaman McCollum, satu bis lagi nongol, menunggui mahasiswa yang akan berangkat ke kampus masing-masing. Dengan ramah dia langsung menanyakan kabarku dan akan kemana pagi ini. Tadi pagi pas sahur kulihat jadwal kuliah untuk pagi ini adalah Systematic and Macroevolution yang akan dilaksanakan di Dole Human Development Center 4014. Setelah kulihat di peta, ternyata gedung itu berada di sebelah Haworth, tempat dua kuliah berikutnya dilaksanakan. Jadi, artinya dia akan lewat di Sunnyvile Drive. Pak Sopir yang ramah itu bilang bahwa bis ini (nomor rutenya 43 Blue) tidak melewati daerah tersebut. Alternatif tercepat, katanya kalau aku lagi buru-buru, adalah dengan berjalan langsung ke arah Dole HDC tersebut dengan menuruni Daisy Hill ini. La iya lah Pak, kan jarak terdekat antara dua titik adalah garis lurus yang menghubungkan keduanya...?? Tapi aku kan lagi puasa, jadi agak mmoh untuk jalan kaki. Kuminta Pak Sopir itu untuk nanti menurunkan aku di titik terdekat ke Dole HDC dan selanjutnya aku akan berjalan kaki.

Setelah ngetem beberapa menit lagi, akhirnya bis tersebut mulai bergerak, melalui setiap dormitory mahasiswa yang terletak di Daisy Hill ini. Pak Sopir itu memperkenalkan diri, bahwa dia yang akan menjadi sopir bis tersebut selama semester ini. Kelihatannya Pak Sopir yang udah manula ini, orang yang periang. Dia selalu menyanyi dan bersiul sambil mengendarai bisnya. Saban melihat cewek cakep, dia sapa. Di dalam bis KU ini disediakan pengeras suara yang corongnya diletakkan di dekat Sopirnya, sehingga setiap kali akan mencapai sebuah halte, sang Sopir akan segera mengumumkan perhentiannya tersebut kepada penumpang. Sedangkan di bangku penumpang sendiri ada semacam kawat kuning yang terhubung satu sama lainnya di masing-masing bangku penumpang, sehingga setiap orang yang akan berhenti sedikit di luar titik perhentian tersebut bisa menarik untaian kawat tersebut dan sinyal berhenti akan menyala di dekat sopir.. Ha ha ha.. Beda dengan bis kampus unand, yang kalau mau berhenti harus mengetuk bagian atas bis atau pakai tepuk tangan.. Di sini semua serba pasti, jadi kalau mau berhenti, sebaiknya berhentilah di tempat yang sudah ditentukan. Walaupun bisa berhenti di tempat yang kita inginkan dengan menarik kawat tanda berhenti tadi, biasanya para sopir jarang yang mau menurunkan di luar tempat yang sudah ditentukan.

Dole HDC Building
Jadilah aku naik bis itu sampai ke perhentiannya yang di persimpangan Learned Hall (gedung ini milik fakultas Teknik). Dari sana, aku berjalan di sepanjang Sunnyvile Drive dan sampai ke Dole HDC kira-kira setengah jam dari jadwal yang sudah ditentukan. Aku segera naik ke lantai 4, untuk mencari ruang kuliah yang dimaksud dengan menggunakan lift. Sampai di lantai 4, di ruang tunggunya kulihat ada seorang gadis lagi duduk membaca. Aku teruskan saja mencari ruangan 4014 yang dimaksud, berdasarkan petunjuk ruangan yang tersedia. Tapi ternyata, setelah dua kali bolak-balik ke masing-masing saya gedung dan melewati gadis yang lagi duduk membaca tadi, aku belum juga menemukan ruangan yang dimaksud. Pas sekali lagi lewat, gadis itu menegurku, "Are you looking for room 4014? It's over there.." Katanya sambil menunjuk ke dalam ruangan jurusan Human Resource.... Lha, pantasan gak ketemu. Yang kupikirkan ruangan kuliah berukuran besar, ternyata ruangan yang dimaksud adalah ruangan kecil berukuran 6 x 6 meter dan diperuntukan untuk ruang diskusi. Karena waktu yang masih panjang dan belum ada nampaknya yang datang, aku duduk menghampiri si gadis tadi yang memperkenalkan dirinya bernama Megan (bukan Megan Fox dong, kalau iya, wah, bisa pingsan diriku). Dia berasal dari jurusan Paleontology, ruangannya kira-kira dua tingkat nanti di bawah ruanganku di the Natural History Museum. Dia mengambil kelas yang sama denganku di pagi ini. Sebelumnya dia merupakan mahasiswa bachelor jurusan yang sama di Universitas Kecil yang ada di Kansas ini. Sebagai catatan, terdapat puluhan universitas swasta di Kansas dan negara bagain Amrik ini. Mungkin yang terkenal memang yang sering nampang di directory pencarian universitas terkenal saja. Tapi sebenarnya, terdapat ratusan universitas di sini. Si Megan tadi juga dengan berbaik hati membantuku mencarikan buku panduan untuk kuliah ini melalui website universitas..

Tak berapa lama, datang Kin Onn Chan yang dari Malaysia. Dia juga kebingungan mencari ruangan kuliah yang sama. Katanya dia mau lihat-lihat saja dulu untuk kali pertama ini, sebelum memutuskan untuk mengambilnya atau tidak. Setelah berbincang-bincang beberapa saat, datang lagi serombongan orang dipimpin seorang wanita yang mengapit laptop di dadanya. Kayaknya mereka juga mencari ruangan yang sama. Megan kembali menegur dan menyapanya serta menunjukkan ruangan yang dimaksudkan. Mereka berombongan segera menuju ke ruangan tersebut. Aku, Megan dan Chan juga mengikuti mereka, karena waktu untuk kuliah sudah dimulai

Dole HDC 4014
Ternyata wanita yang mengapit laptop tadi adalah dosennya. Sekali lagi, karena pakaiannya yang sangat formal jika dibandingkan dengan jabatannya sebagai tenaga pengajar di Universitas yang bergengsi ini, tentunya sangat berlawanan kalau dilihat dari kacamata orang Indonesia sepertiku yang sudah biasa disuguhi pemandangan, bahwa tampilan luar selalu harus lebih diutamakan daripada "isi" di dalamnya.. Ha ha ha.. Si wanita tadi masih menunggu beberapa saat untuk menantikan mahasiswa yang kemungkinan akan datang. Dia mengatakan bahwa sebenarnya mereka (dosen untuk mata kuliah ini lebih dari satu orang, lima orang plus satu orang dosen tamu) menginginkan perkuliahan di Haworth Hall, tapi udah keburu penuh dan mereka tergeser ke gedung tetangganya ini. Setelah tidak ada lagi mahasiswwa yang diperkirakan akan datang, sang Dosen membuka kelasnya. Dia memperkenalkan dirinya bernama Paulyn Cartwright, Associate Professor (atau asisten Professor) di EEB ini. Kemudian seluruh mahasiswa diminta untuk memperkenalkan diri satu persatu, biasanya dengan standard nama, department dan supervisor. Setelah semua memperkenalkan diri, Paulyn mulai menerangkan syllabus perkuliahan yang versi printed nya sudah dibagikan di awal perkuliahan. Secara ringkasnya, kuliah ini akan meliputi pemberian lecture oleh para dosennya, kemudian ada sesi reading nya dan juga ada exam nya... Untuk yang terakhir ini, para mahasiswa sepakat untuk melakukannya dalam bentuk short-essay, bukan dengan membuat paper. Haaaahh.. Oke lah....

Paulyn Cartwright Paulyn Cartwright; Ecology and Evolutionary Biology 01-13-2005 ©The University of Kansas/Office of University Relations Credit: Doug Koch file name: CartwrightPaulyn_04409 in archive folder: 04409_Portraits ©The University of Kansas/Office of University Relations

Kuliah dengan Paulyn tidak berlangsung lama, karena hanya bersifat introduction. Setelah meninggalkan pesan bahan bacaan untuk pertemuan selanjutnya, kelas kami pun bubar. Aku menuju ke restroom dulu, karena suhu yang dingin mau tak mau membuat vesica urinaria jadi terisi dengan cepat. Karenanya, aku ditinggal oleh Chan dan lain-lain yang segera menuju ke ruang kuliah berikutnya di Haworth 2025 untuk kelas Biometry dengan John Kelly. Di sepanjang hallway lantai 2 tersebut sudah banyak menunggu mahasiswa yang akan kuliah. Sementara ruang kuliahnya sendiri masih dipakai oleh kuliah yang sebelumnya. Sekitar pukul sebelas kurang, kelas tersebut bubar dan kami yang akan mengambil Biometric bisa masuk dan duduk mengambil bangku yang kami sukai. Ternyata kelas ini adalah kelas besar. Hampir lebih dari 30 orang mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, termasuk EEB, Paleontology, Engineering, Psychology dan Environmental Science tumplek blek ke dalamnya. Aku juga menjumpai kenalan-kenalan sejurusan ku di sana; Robyn (akhirnya aku bisa mengembalikan kunci duplexnya karena sejak pindah ke McCollum, belum sempat berkunjung ke sana), Kate, Patrick, Mabel, Kyungjin termasuk Chan. Tidak beberapa lama, masuk dosennya, John Kelly. Orangnya masih muda juga, paling lewat dari 40an umurnya. Memakai dasi merah dengan kemeja putih dan celana jeans. Cukup formil dibandingkan dengan dosen-dosen sebelumnya yang kujumpai...

Setelah jam sebelas lewat, John langsung membuka kelasnya. Ternyata dia berlogat Selatan, yang ngomongnya sangat cepat dan nada bicara yang tegas. Setelah ngomong satu "chapter" dia akan bertanya "any question" kepada setiap attendant di kelasnya. Kemudian dilanjutkan dengan absensi, sekalian dia menanyakan nama, nama panggilan, department dan supervisor. Kemudian dia menerangkan syllabus, system perkuliahan serta praktikum yang akan dilakukan. Dia juga menyebutkan Patrick Monnahan (yang kujumpai lagi ngasih makan kakatua nya Robyn saban hari) sebagai TA atau Teaching Assistant nya. Kelas yang ini pun juga tidak terlampau lama berjalan. John yang berbicara dengan tempo cepat khas logat Selatannya menutup kelas kembali dengan "Any Question.."

Di luar kelas, Kyungjin yang dari Korea mengeluhkan bahwa dia hampir tidak memahami sama sekali apa yang disampaikan John di dalam kelas tadi. Akupun menghiburnya dan bilang bahwa akupun hampir sama dengannya. Ha ha ha...
Kyungjin Min

Kelas berikutnya ada di pukul 3.30 pm. Artinya ada beberapa jam lowong. Aku memutuskan untuk ke Kansas Union, meminta KU Card ku yang merupakan barang penting di sini.. Berjalan dikit, aku sampai di gedung yang terbuat dari batas merah tersebut. Aku langsung menuju ke KU Card Center tersebut dan menanyakan apakah aku sudah bisa membuat KU Card ku.. Dia menanyakan ID card ku atau passport. Setelah kuberikan passport, dia segera mencarinya di database dan ternyata aku sudah bisa membuat KU Card.. Kemudian aku dipersilahkan duduk di salah satu bangku yang ada di depan kamera.. Dalam hitungan tiga aku dijepret dan satu menit kemudian, jadi lah kartu mahasiswa ku ini... Lagi-lagi berbeda dengan proses yang sama di Universitas ku yang bisa mencapai beberapa hari bahkan sampai beberapa minggu. Hu hu hu....

My KU Card, finally..

Kemudian karena di samping KU Card Center ada Commerce Bank, aku jadi berniat untuk membuka akun di sana. siapa tahu nanti diperlukan untuk pembayaran uang kuliah dan sebagainya. Lalu setelah bertanya dengan petugas yang ada di sana, aku diberikan serangkap formulir untuk diisi. Aku membawanya ke meja dekat tempat orang-orang biasa duduk. Saat sedang mengisinya, aku melihat seorang pemuda yang biasa kujumpai di Islamic Center. Dia memberi salam dan kemudian menanyakan sedang apa. Saat tahu apa yang kulakukan, dia menyarankan aku untuk mengecek ke KU Credit Union, semacam Bank Perkreditan khusus untuk mahasiswa, karena katanya lebih praktis dan fasilitas yang disediakan lebih mendukung untuk kehidupan mahasiswa. Yaaah, aku juga jadi mempertimbangkannya. Oke lah, karena letak Kansas Union tadi agak jauh, yaitu di Naismith 23rd Dr, aku jadi malas ke sana. Nanti sajalah saat aku sudah mempunyai Social Security Number. Itupun setelah supervisor ku yang satu lagi, Townsend Peterson kembali dari lapangan. Karena tidak ada lagi yang bisa kukerjakan di sini, lagian juga kalau terlampau lama di sini godaannya cukup besar. Bukan hanya "dagangan" para hotchick di sini yang ngebrojol dimana-mana... Tapi juga karena gedung Kansas Union ini adalah sentra tempat makan di KU, jadi dimana-mana orang-orang yang non muslim lagi makan siang... Hwadoooh....

Aku memutuskan kembali ke McCollum. Buat tidur...

Jam tiga, aku kembali nyari bis buat ke Haworth 1005 untuk mengikuti Department Seminar... Sebenarnya kuliah yang ini berisi presentasi dari para mahasiswa tingkat lanjut yang sedang mengerjakan thesis atau disertasinya... Jadi mereka membuat semacam seminar kecil-kecilan dengan menampilkan sebagian dari penelitian mereka. Untuk kali ini ada tiga orang yang memberikan tampilan, yaitu Sarah B-R.(Consequences of pollinator loss in Mimulus guttatus); Sarah Schmidt  (Putting together the Prairie Potamoplankton puzzle) dan Charles Linkem (Molecular systematics of forest skinks (Scincidae: Sphenomorphus group): challenges of large data matrices in phylogenetics). Presentasi ini dibawakan dalam ruangan bertipe theater dengan susunan bangku yang menurun ke bawah. Yang hadir ramai sekali, mulai dari mahasiswa sampai ke seluruh staff dosen yang ada. Juga sebelum mulai, ada cookie dan coffee yang diberikan sebelum hadirin masuk. Kami yang mahasiswa baru EEB juga sempat diperkenalkan kepada seluruh hadirin sebelum presentasi pertama dimulai.

Penampilan ketiga presenter tadi terhitung bagus. Aku yang duduk bersama dengan Mabel, Kyungjin dan Jin berdecak kagum dengan kepintaran mereka dalam mengolah hasil penelitian dan menampilkannya, serta kemudian menampilkannya. Sebenarnya untuk para penampil di dalam Department Seminar ini tidak ada diberikan grade A atau apa, tapi ini lebih merupakan semacam ajang pemanasan sebelum mereka melakukan defense di depan panelis sidang doktoral mereka. Sedangkan untuk mahasiswa yang mengambilnya sebagai salah satu mata kuliah, penilaian didasarkan nanti pada tingkat kehadirannya saja. Wuiih, mantap.. mantap.. mantap.... Aku dan Kyungjin sampai-sampai ragu akankah kami bisa melakukan presentasi macam itu nanti di masa yang akan datang??

Setelah itu, aku ditemani oleh Kyungjin ke Anschutz Library untuk mencari buku bacaan untuk Biometric. Katanya mungkin masih ada beberapa eksemplar di san. Tapi setelah dicek dengan petugasnya, termasuk dengan usaha untuk mencari yang versi fotocopy an nya.. Nihil... Nampaknya aku memang harus membeli juga satu nih, walau harganya yang lumayan tinggi buat kantongku yang semakin singset dari hari ke hari ini akan membuatku makin mengetatkan ikat pinggang... He he he....

Setelah selesai kuliah terakhir ini, aku berjalan pulang ke McCollum, sekallian bareng dengan Kyungjin yang satu arah di Jayhawk Tower.. Kemudian sesampai di McCollum, aku hampir-hampir terkapar, karena saking capeknya hari ini kuliah tiga kali dalam keadan puasa.. Untung saja aku sempat nyetel alamr HP untuk bangun lebih awal, sehingga ketika sampai di Islamic Center sorenya, bertepatan sekali dengan waktu buka...

Aku langsung ketemu dengan si Bapak dari Malaysia, Azhar dan Zahri (yang ini pasangan duonya Azhar, baru aku tahu namanya kemaren). Biasa, berbuka dengan yang manis-manis kayak korma dan susu non fat.. Kemudian makan besarnya setelah shalat Maghrib.

Kembali hari ini aku menemukan satu fakta yang cukup mengesalkan tentang orang Arab, terutama anak-anak dan pemudanya.. Mereka kalau ngambil makanan suka melimpah ruah dari piringnya, tapi kemudian gak mereka habiskan. Ini kelihatan saat membereskan piring-piring kotor, biasanya piring yang ada di meja tempat mereka ngumpul selalu bersisa makanannya banyak. Sampai-sampai si Bapak dari Malaysia marah-marah dan bilang, "Dasar anak-anak keturunan "Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu Sofyan..!!" Iya sih, aku lihat mereka memang agak kurang juga dalam masalah etika dan kesopanan. Kalau makan, di samping bersisa banyak, mereka juga suka membuang remah-remah atau sisa makanannya secara sembarangan di meja tempat mereka makan. Terus mereka juga suka mengambil makanan, hanya sekedar karena mereka pengen bersaing mengambilnya, bukan karena mereka butuh... Di samping itu, mereka juga kurang hormat dengan orang-orang tua yang non Arab... Kayaknya anggapan mereka bahwa bangsa non Arab lebih rendah dari mereka berlaku juga tuh... Gak heran mereka memperlakukan para TKW kita dengan semena-mena sehingga banyak kejadian seperti kasus Ruyati yang baru-baru ini terjadi. Oh ya, ngomong-ngomong soal Ruyati, kemaren aku ada melihat di Youtube video pemenggalannya yang disiarkan oleh sebuah stasiun televisi di Iran.. Wiih, bener-bener sekejap mata saja langsung putus tuh... Dan algojonya melakukannya tanpa ragu. Aku saja sampai ngeri setiap teringat...

Haah... Malam ini aku benar-benar terkena feedback dari jetlag dan kondisi tubuh yang kurang stabil.. Saat shalat tarawih beberapa kali sempoyongan hampir jatuh karena menahan kantuk dan kondisi body yang benar-benar tidak fit...

Hhhh... Untung Rabu ini istirahat...

Mudah-mudahan Kamis besok sudah siap tempur lagi....

Jumat, 19 Agustus 2011

Happy Day


Senang sekali aku ketika berkunjung ke Lippincot Hall mendapati hasil Applied English Test ku cukup memuaskan. Test yang kemaren dilakukan di Budig Hall telah memberikan hasil 518 dari nilai total 600. Dengan demikian, aku tidak perlu mengikuti Applied English Course dan dipersilakan untuk melenggang berkuliah langsung di department ku, Ecology and Evolutionary Biology (EEB).

Hasil ini juga sekalian mencabut penangguhan (hold terakhir) yang masih dilekatkan pada status admission ku... Dengan demikian, aku sudah bisa membuka KU Enroll & Pay page di KU Website dan mulai mengambil mata kuliah yang kuinginkan. Tentu saja itu semua dilakukan secara online. Dua mata kuliah wajib yang harus diambil oleh setiap graduate student adalah BIOL 701 Topics in Ecology and Evolutionary Biology serta BIOL 841 Biometry I. Kuliah yang pertama adalah kuliah yang terkait dengan pengkhususan perkuliahan kami di EEB, dan kebanyakan akan disampaikan dengan cara seminar. Sedangkan yang kedua terkait dengan bidang statistik. Hmmm, mudah-mudahan apa yang dipelajari dulu waktu S1 dan S2 bisa digunakan di sini. Kuliah yang satu ini juga dilengkapi dengan praktikum 1 jam pelajaran...
My Schedule

Kayaknya aku masih punya kredit lebihan untuk semester awal ini. Dan tentunya sesuai dengan buku panduan KU, kami harus berdiskusi dulu dengan supervisor yang sudah ditunjuk untuk kami. Naah, saatnya berdiskusi dengan pembimbingku (kebetulan untukku ada dua orang, Dr. Robert G. Moyle dan Dr. A Townsend Peterson). Orang yang disebut kedua seperti yang kusebutkan dalam postingan terdahulu, tengah berada di Mongolia dalam ekspedisi untuk pengumpulan spesimen bagi Museum Natural History di KU ini. Jadi, aku tinggal mencari Rob (panggilan untuk Dr. Robert G. Moyle) ini ke Dyce Hall, tempat the Natural History Museum berada.

Dr. Robert G. Moyle

Sampai di sana, aku langsung menuju ke pintu masuk bawah yang berada di bawah patung bird of Victory, yaitu patung burung rajawali di sarangnya dan tengah menyuapi dua ekor anaknya. Dari pintu itu, aku langsung menuju ke lift yang berada di sebelah kirinya. Sebenarnya aku bisa saja langsung menuju ke lantai 7 tempat Rob berada, karena aku sudah punya kunci untuk tombol lift ke lantai 7, tapi aku mampir dulu ke lantai 6, ke tempat Lorie, sang administrator di Natural History Museum tersebut. Tepat ketika aku keluar dari pintu lift, Lorie juga sedang keluar bersama seorang profesor yang kuketahui bergelut di bidang mamalia. Rambutnya yang megar bak singa dan berwarna keperakan membuatku selalu berpikir bahwa kadang pekerjaan yang terlampau sibuk bisa membuat orang menjadi lupa dengan penampilan. Tapi entah juga lah, karena kalau aku melihat supervisor ku Rob, dia sangat keren sekali. He he he...

Langsung kutanyakan, apakah sudah ada kabar dari Dr. Town, terkait dengan GRA ku... Lorie menjawab dia tidak tahu menahu tentang itu dan menyarankan aku untuk langsung bertanya pada Rob, karena Rob yang menghubungi Dr. Town melalui email. Kebetulan Lorie dan si Profesor Rambut Megar akan ke lantai 7 juga. Lorie mengenalkan aku padanya. Tapi sayangnya, karena sekali lagi short-term memory ku yang sering reboot, saat menuliskan note ini aku lupa lagi namanya. Sampai di lantai 7, aku berpisah dengan mereka berdua dan menuju ke ruangan Rob. Kebetulan dia lagi berada di mejanya tengah mengerjakan sesuatu. Aku menyapanya dan minta ijin masuk.

Setelah berbasa basi, aku langsung mengutarakan apa yang menjadi tujuanku. Yang pertama tentunya adalah untuk mendiskusikan apa lagi kuliah yang harus kuambil di samping dua mata kuliah wajib yang sudah disosorkan oleh Jamie Keeler sang Graduate Adminitrator kepadaku melalui email. Rob minta waktu sebentar, mencoba mencari di komputernya, terutama di email resmi KU-nya, karena sepertinya sesama kolega mengajar di KU saling memberitahukan tentang apa mata kuliah yang akan mereka ajarkan. Sehingga satu sama lainnya saling mengetahui. Setelah mengamati sebentar, Rob menyodorkan layar komputernya kepadaku dan menunjuk email dari koleganya yang mengirimkan notice mata kuliah Systematic and Macroevolution. "It's good if you join this class" katanya. Oke deh.. Aku gak masalah. Kebetulan saat itu, salah seorang instructor mata kuliah yang kami bicarakan tersebut masuk. Aku diperkenalkan Rob kepadanya. Profesor tua ini bernama Bruce Lieberman. Setelah sedikit ngomong-ngomong, Prof. Bruce berlalu. Aku kemudian bertanya lagi apa mata kuliah yang bagus untuk diambil dalam semester awal ini. Rob mengatakan bahwa 10-12 jam kuliah dalam semester awal ini sudah cukup sebenarnya. Tapi dia menyerahkan kepadaku kalau masih ada yang ingin kutambahkan. Misalnya seperti seminar ilmiah yang diadakah oleh orang-orang ornithology di Museum setiap hari senin di Kansas Union. Di sana peserta seminar membahas jurnal-jurnal ilmiah dan saling berdiskusi satu sama lainnya....

Oke deh.. Setelah selesai berdiskusi tentang masalah akademis, aku kembali bertanya ke Rob tentang Dr.Town. Terutama terkait dengan nasib GRA dan Social Security Number ku yang saling berkaitan.. Ternyata Dr. Town bisa kembali lebih cepat, yaitu Rabu minggu depan, sehingga kami bisa membicarakan masalah ini lebih cepat. Kemudian aku juga menanyakan tentang kiriman dokumen foto rontgen gigi ku yang kemaren dikirimkan oleh saudaraku Imul untuk kepentingan test kesehatan. Ternyata Rob sudah memberikannya kepada Robyn untuk diberikan kepadaku sesampainya di rumah nanti. Dan hal terakhir yang kutanyakan adalah tentang barang-barang kiriman dari IdeaWild berupa seperangkat mistnet dan alat-alat pencincinan. Rob mencari-cari sebentar di sudut atas lemari ruangannya dan mendapatkan sebuah kotak berukuran sedang yang dialamatkan kepadaku dengan menumpang kepada alamatnya di Museum ini. Huff, lega...


Akhirnya setelah semua yang terkait dengan pembimbingku yang satu itu selesai, aku minta ijin untuk pergi. Sebelum pergi, Rob mengatakan bahwa dia akan pergi keluar daerah sampai akhir minggu dan baru masuk setelah Senin atau Selasa minggu depan.

Strong Hall

Kansas, Still on August 16 2011


Jam tiga sore waktu lokal, seperti yang kemaren-kemaren kujabarkan dalam tulisanku, adalah waktu yang paling genting terkena pengaruh jam biologis yang masih terbawa dari alam Indonesia yang harusnya masih dini hari di jam tersebut... Sudah beberapa hari semenjak kedatangan, aku menjadi korbannya: tepar pada jam tersebut, bahkan bisa sampai jam 9 malam waktu Kansas.. tapi untungnya, keteparan dalam rentang waktu tersebut menghantarkan diriku tepat pada saat berbuka puasa. Di sini, berbuka adalah pada jam 8.30 pm alias jam setengah sembilan malam.... jam 8 saja matahari masih nongol dan suasana terang benderang.... Nah, hari ini aku ceritanya setelah selesai dengan kegiatan kampus sampai jam 12an, tiba kembali ke rumah pada jam dua dan langsung tepar tertidur pada jam tiga nya...

Sedang asyik ketiduran, aku kayak mendengar suara grasak grusuk dari kamar sebelah.. Bunyi seseorang sedang bercakap-cakap yang jika kudengarkan bukan berasal dari burung kakaktua yang dipelihara oleh home-mate nya Carl. Wah, kalau bukan burung parrot itu, siapa atau apaan tuh? Tapi dasar karena tubuh yang masih loyo, aku hanya mendengarkan saja suara tersebut. Sampai ketika pukul lima, mulai agak lebih heboh... Kedengaran bunyi gedubrak gedubruk di bagian ruang tamu duplex yang aku tempati ini.. Dengan memaksa mata yang sepet karena masih ngantuk, aku keluar kamar dan jreng-jreng-jreng...... Di kamar sebelah berdiri seorang perempuan berwajah Asia tengah beres-beres di kamar tamu dan di kamar sebelahnya kamar Carl.... Kalau dibawa ke situasi di tanah air, jika dalam suatu rumah ada seorang cewek dan mendadak dari arah lainnya muncul cowok bertampang semi-garong yang baru saja selesai bangun tidur, tu cewek pasti akan jejeritan... Tapi dia dengan santai menyapa, "Hey, I'm Robyn... Are you Carl's friend?" Cewek itu langsung membawa memoryku pada list mahasiswa EEB yang kulihat di website department ku... Aku ingat betul dia, karena profile nya berada tepat di bawah profile ku.. Bedanya, jika aku memegang dua ekor burung srigunting di tanganku, dia memegang seekor elang besar di tangan kanannya...

Robyn Mei Jones Doctoral aspirant in EEB

Aku segera memperkenalkan diri.. Maklum la, udah beberapa hari menempati rumah orang, mendadak salah seorang dari yang punya rumah pulang, kalau di Indonesia pasti udah digeber akunya ke rumah RT setempat buat ditanyain. Tapi itulah bedanya dengan di sini. Kenyataan bahwa aku (atau dalam kasus lainnya adalah Carl) tinggal serumah dengan cewek (yah, di sini harus dijelaskan, tinggalnya pada kamar yang berbeda) bukanlah isu besar di sini.. Masyarakat di sini bilangnya "Cuek aja lagee,,," Ha ha ha... Robyn ternyata orangnya ramah dan tidak mempermasalahkan kalau aku sudah lama tinggal di kamar Carl. Dia justru senang dapat membantu mahasiswa baru yang nanti akan berada pada jurusan yang sama dengan dirinya. Terlebih juga Carl akan pergi dalam waktu yang lama, karena ada kerja lapangan di Filipina selama 5 bulan.. Duuuh, mudah-mudahan keluarga dan tentunya yayang ku tercinta gak mengira-ngira yang jelek kalau aku tinggal di sini sementara satu rumah dengan seorang cewek.. Gak lah, aku gak bakalan ada apa-apanya..

Kami bercakap-cakap sejenak. Ternyata Robyn baru kembali dari rumah bibinya di California seminggu yang lalu. Sebelumnya dia menghabiskan liburannya di Filipina juga untuk melakukan kerja lapangan dan koleksi. Dia  bercerita tentang orang-orang yang sekarang ada di lab tempat aku bakal bekerja nanti dan pernyataannya sama dengan pernyataan dari Kate yang mengantarkanku dari Bandara ke sini dulu, bahwa semua person yang ada di lab kami adalah orang-orang yang menyenangkan. Oke deh... Karena masih ada kantuk yang tersisa, aku permisi dulu buat kembali ngelindur.. Aku pengen pas berbuka nanti udah segar kembali dan bisa datang ke Islamic Center seperti yang dikatakan oleh orang Arab yang kutemui di depan Kansas Union.. So.. Let's ngelindur broo.....

Wah, walaupun aku mencadangkan waktu untuk dapat bangun pada jam 7, biar bisa keliling dulu ke Dillon's mart, tempat aku bisa mencari barang-barang kebutuhanku, ternyata baru benar-benar bisa bangun pada pukul delapan kurang.. Jadi jika ditotalkan dengan waktu yang dipakai untuk mandi, beberes dan dandan seadanya, udah jam delapan malam lewat. Yaah, aku harus batalkan kepergian ke mini mart nya, dan langsung saja ke Islamic center yang di sudut jalan 19th street.

Islamic Center of Lawrence
Sign Board of Islamic Center of Lawrence

Benar saja, suasana sudah mulai ramai di sana. Beberapa keluarga sudah datang, para istri mengenakan hijab atau jilbab yang modelnya bergantung pada mode yang sedang ngetrend di negerinya masing-masing.. Pas mau masuk ke dalam ruangan yang difungsikan sebagai mesjid, aku celingak-celinguk melihat-lihat situasi, kalau-kalau ada orang.. Bertepatan dengan turunnya dua orang yang kukira berasal dari negara Timur Tengah begitu. Seorang yang lebih tua menanyakan mau apa? Aku menjawab bahwa aku pengen ke mesjidnya... Dia mempersilakan aku masuk dari pintu selatannya.. Yap, benar. Aku langsung ketemu dengan pintu ke ruangan mesjidnya. Setelah berwudlu, aku masuk ke ruangan mesjid, shalat dua rakaat dan kemudian melihat sekeliling... Ada beberapa orang di sana, kebanyakan bertampang Timteng tadi.... Ada beberapa yang berkulit hitam yang kemudian kuketahui berasal dari Nigeria di Afrika.. Juga ada yang berkulit putih.. Kupikir bule setempat yang telah berpindah agama memeluk Islam. Tidak berapa lama duduk, salah seorang yang bertindak sebagai gharin di ruang mesjid tersebut langsung mengumandangkan adzan tanda masuk waktu maghrib dan isyarat untuk berbuka.. Semua orang langsung menuju ke basement atau lebih tepatnya, basement adalah tempat berbuka khusus untuk lelaki. Sedangkan yang wanita, berbuka di tempat yang terpisah. saat aku melangkah menuju ke sana, seorang pria bertampang bule melemparkan sebotol air putih untuk kuminum. Pria itu kemudian kukenal bernama Nader, berasal dari Lebanon.

Di basement sendiri sudah banyak orang. Mereka umumnya duduk pada kursi yang diletakan berbaris di meja-meja panjang. Di atas meja ada korma yang dibungkus dalam paket-paket kecil. Juga ada gelas-gelas styrofoam dan botol-botol air minum berukuran kecil. Aku menuju ke salah satu meja yang masih kosong, belum berani bergabung dengan meja yang sudah berisi. Maunya sih sambil mendengarkan dan melihat situasi. Tentunya sambil memakan hidangan yang ada di atas meja. Sebagai tambahan, di dalam botol yang berukuran besar ada susu non fat yang rasanya tawar, tapi sangat enak karena didinginkan di dalam kulkas... Aku memuaskan dahaga semenjak siang tadi dengan air putih dan susu non fat tadi. Tak lupa juga menghabiskan sebungkus korma. Segar badan rasanya. Sementara umat yang datang semakin banyak dan semakin beraneka bentuk.

Date (korma)

Kemudian maghrib dilakukan secara berjamaah di ruangan mesjid. Di sini baru kelihatan lumayan banyak penganut Islam yang ada di Lawrence ini. Ada pria dari Jordania dengan beberapa orang anggota keluarganya. Orang-orang ini sering kukira sebagai bule karena mereka memang berambut pirang, berkulit pucat dan bermata biru. Umumnya mereka yang berasal dari Timteng memang masih berbagi gen Caucasoid dengan mereka yang ada di negeri Eropa dan Amerika. Kemudian ada lagi mereka yang dari Arab. Mereka ini umumnya berbadan tinggi besar. Aku paling terkesan dengan hidung mereka yang mancung tapi agak bengkok dan bulu mata prianya yang lentik, memberi aksen tertentu untuk garis matanya yang tajam. Lalu ada juga para pria Niger yang tinggi-tinggi dan berpakaian seperti pemain NBA. Sedangkan yang dari Asia, tentunya diwakili oleh diriku dan dua orang pemuda Malaysia. Ditambah dengan beberapa orang dari India yang muslimnya dan beberapa orang Pakistan. Di sini, kedua suku bangsa tersebut terlihat rukun dan damai, beda dengan di negaranya yang selalu terlibat konflik perbatasan sampai ke konflik nuklir.. Ha ha ha...


Setelah selesai maghrib, kami kembali ke basement untuk melanjutkan acara makan penganan yang lebih berat lagi. Orang makin ramai karena makin banyak yang datang. Kami antri untuk mendapatkan nasi kari, sayuran, daging giling yang dimasak seperti sosis tanpa kulit dan ayam dalam potongan besar yang dimasak dengan rempah-rempah yang aku tidak begitu kenal rasanya. Di depanku ada dua orang pemuda bule TimTeng.. Mereka secara bergantian pergi menyalami ayah atau kakeknya yang berada lebih ke depan dari antrian.. Aah, senangnya melihat mereka, bertampang bule, tapi gape dalam berbahasa Arab Parsi.. Sementara di belakangku dua orang anak kecil, yang satu sepertinya keturunan TimTeng sehingga jelas kelihatan bulenya, sedangkan yang satu lagi adalah anak orang India atau Pakistan. Keduanya ngobrol dalam bahasa inggris yang fasih, cuman si bocah India/Pakistan dengan aksen yang mirip dengan bocah India di dalam film Diary of the Wimpy Kid... ha ha ha... Asyik juga melihatnya.

Arabian Shot of a man in oriental costume.
Nigerian
Middle Eastern People

Sampai di giliranku berada di depan aku segera mengambil piring dan sendok. Segera wadah ku itu dipenuhi dengan nasi kari, sayuran, ayam gulai dan daging cincang. Aku juga dapat segelas soup kental. Dan pas mau kembali ke meja, diberi sepotong kue yang kukira pie, ternyata bukan. Kayaknya tu kue adalah kue khas dari TimTeng. Terbukti dari rasanya yang super-duper-kuper manis.... Udah dikasih gula, lalu ditaburi korma, terus ditambah madu plus sirup.... Wadooh, kalau orang yang menderita kencing manis makan ini, kujamin bakal step tiga hari tiga malam.. Wuehehehehehe......Wah, sudah komplit dan saatnya makan. Aku duduk di meja dimana kulihat ada wajah Asia, yaitu di dekat dua orang Malaysia yang duduk bersama dengan pria Lebanon yang tadi memberikan air minum kepadaku, Nader. Aku lupa dengan nama kedua orang pemuda Malaysia tadi. Maklum, short memory system sering mengalami reboot, Ha ha ha... Di depan ku kemudian juga duduk seorang pemuda keturunan Maroko yang lahirnya di Amerika ini. Namanya Gareth. Setelah bercerita dengannya, melalui tutur bahasanya yang halus dan santun, dia bilang bahwa dulunya dia adalah penganut agama kristen yang kemudian beralih memeluk agama Islam karena tidak bisa menerima konsep trinitas di dalam agama lamanya.. Hooo... Ternyata memang banyak juga yang sadar dengan ketimpangan konsep ketuhanan tersebut..

Kami makan sambil berdiskusi tentang berbagai hal... Sampai kemudian satu persatu orang-orang yang ada di sana membubarkan diri. Sebagian, terutama yang bapak-bapak, bertugas membersihkan meja dan mencuci piring. Aku yang belum tahu begitu banyak dengan kondisi tersebut, memilih pamit dan kembali pulang. Tentunya dengan perut kenyang dan senyum bahagia karena telah bertemu dengan umat Islam lain yang ada di daerah Kansas ini....

Alhamdulillah......

NB: gambar didapat dari internet, kecuali Foto Robyn yang memang disertai dalam website apatemen di KU