Sabtu, 20 Agustus 2011

A Tough Day


Betapa mudahnya berbalik keadaan hari-hariku di Kansas ini......

Kemaren kurasakan betapa indahnya hari, saat semua urusanku berjalan dengan lancar, terutama yang terkait dengan aktifitas perkuliahan..Perasaan lega saat semua penangguhan sudah dilepaskan.. Tapi justru pada hari ini terasa jauh lebih berat menjalaninya, mash sehubungan dengan menjalankan aktifitas perkuliahan itu juga.

Seperti yang kuceritakan dalam postingan sebelumnya, hari ini adalah saat cohort meeting di dalam fakultas EEB. Sesuai dengan yang dijadwalkan dalam email pemberitahuan yang disebarkan oleh Jaime Keeler kepada kami semua. Acaranya akan dimulai pada jam 09.00 waktu lokal dengan breakfast di ruang 2023 Haworth Hall. Pagi-pagi, sekitar jam 7, Robyn sudah mengetuk pintu kamarku untuk mengingatkan pertemuan itu. Aku yang memang sudah bangun saat itu, segera membukan pintu dan menjawab bahwa aku akan bersiap-siap.

Kupikir karena pertemuan itu akan bersifat sedikit lebih formal, makanya aku mengenakan kemeja Northface dan celana lapangan yang sewarna. Walau masih tetap menggunakan sandal gunung, kupikir itu cukup resmi untuk ukuran Amerika yang memang tidak terlampau suka basa basi... Setengah sembilan lewat, aku segera menemui Robyn yang sudah siap lebih dahulu dariku. Katanya dia mau mengantarkanku ke tempat pertemuan tersebut, mungkin dengan alasan takut aku tersesat. Tapi sebenarnya kan aku sudah tahu dimana lokasi jurusan kita tersebut. Walaupun University of Kansas cukup luas, tapi aku paling tidak sudah mengetahui secara garis besar lokasi gedung-gedung utama yang nanti aku perlukan dalam melaksanakan proses perkuliahan. Terutama gedung Haworth yang menjadi markas untuk jurusan-jurusan eksak, terhubung dengan bridge dua lantai ke Malot Hall yang menjadi gedung untuk fakultas farmasi dan kedokteran. Mungkin akan lebih mudah mengamati lokasi kampusku ini dengan menggunakan peta, tapi tentu saja peta yang bisa kumasukkan ke dalam postingan ini tidak begitu bagus untuk menjadi panduan. Biasanya, di beberapa sudut jalan di kampus, akan ada peta yang lengkap menunjukkan lokasi di kampus, sehingga orang akan dengan mudah mencari suatu tempat yang ada di sana. Akupun sejak awal memang sudah mengandalkan peta yang kudapatkan dari paket orientasi yang diberikan kepadaku.

Haworth Hall
KU Map

Setiba di Haworth, tentunya dengan berjalan kaki, kami langsung menuju ke ruang 2023 di lantai dua melalui tangga. Di dalamnya sudah ramai dengan banyak orang. Beberapanya sudah kukenal, karena sudah bertemu atau paling tidak pernah berkirim email atau melihat profile nya di homepage department. Kathryn Ingenloff atau Kate, duduk di barisan bangku paling depan bersebelahan dengan Joseph Manthey (Joey) yang nyaris menjadi teman se-duplex ku.. Aku menyalami mereka berdua. Sedangkan wajah-wajah yang lain yang ada di bangku deretan agak ke belakang, aku tidak begitu akrab, kebanyakan adalah orang-orang bule dan beberapa berwajah China, karena tentu saja dengan mudah bisa dilihat dari sipit matanya. Jaime Keeler juga terlihat bicara dengan beberapa staff pengajar yang datang. Dia memakai baju terusan longgar berwarna hitam dengan syal berwarna kombinasi menyala. Semuanya tampak berbincang akrab satu sama lainnya sambil memakan hidangan pagi yang tersedia; bagel, yogurt, selai, salad dan irisan buah kombinasi.Ini yang kumaksud dengan salah satu hal yang membuat hari ini terasa berat; memandangi orang-orang sekitar kita yang makan dengan lahap dan riang gembira, sementara kita harus menahan lapar, karena memang diwajibkan untuk itu.

Kate Ingenloff
Joseph Manthey

Kemudian Kate menyuruhku mengambil modul orientasi jurusan yang terletak di sebelah kanan depan. Aku segera menuju ke tumpukan majalah khas Kansas city dan buku pegangan untuk mahasiswa EEB (yang versi softcopy nya sudah dikirimkan oleh Jaime melalui email). Di sana juga ada kokarde sticker yang mungkin dipakai sebagai alat untuk mengenal nama satu sama lainnya. Ketika aku sedang mengambil bahan-bahan tersebut, seorang pemuda Chinese yang memakai celana kargo pendek dan baju kaos putih menegurku dalam bahasa Malay "Hai, kamu Muhammad dari Indonesia, kan?" Wah, aku terkejut disapa demikian di saat yang tidak terduga seperti itu. Aku memperhatikan orang tadi, sepertinya pernah bertemu saat late orientation di Watkins Memorial yang diadakan oleh ISSS. "Hai juga... Kamu siapa? Kenapa tau denganku?" Dia menjawab, "AKu Chan dari Malaysia. Aku tahu daru hopepage dan juga karena sudah bertemu Sabtu kemaren...."

Haa, ternyata dia juga ingat kami sudah bertemu sebelumnya. Cuma waktu itu belum saling menyapa, karena kukira dia orang China dari RRC yang memang banyak ada di KU ini. Akhirnya kuputuskan untuk duduk di dekatnya, biar bisa bercakap-cakap lebih banyak lagi. Ketika aku duduk di bangku di samping Chan (Lengkapnya: Kin Onn Chan, dari Malaysia), seorang bule tinggi besar tegap dan botak menyalami ku... "Hai, I'm David.. I know you from Townsend. He said that you'll work with him. Nice to meet you.." Waah, asik-asik juga nih orang. David MacLeod ini adalah salah seorang kolega Dr. Town dan bekerja di gedung yang sama, Dyche Hall. Dia dengan ramah mengajakku bercakap-cakap dan meminta alamat emailku, karena ada sesuatu yang penting yang mau dia kirim. Kemudian dia memberitahukan bahwa besok ada event penting yang akan diadakan oleh International Association. Dan event tersebut penting karena bisa membantu kehidupan awal kami selaku mahasiswa asing. Event itu diadakan di HillTop, dekat dengan McCollum yang akan jadi apartment ku...Pokoknya, dia mengirimkan detailnya lewat email. Wiiih, baik banget si bule ini. Kemudian sebelum presentasi orientasi kami dimulai, David mohon diri untuk berangkat, karena dia ada rencana untuk pergi ke suatu tempat di akhir minggi ini. Oke lah, aku duduk kembali di bangku di samping Chan. Kulihat di samping Chan ada seorang pemuda bule dengan rambut ikal dan tubuh tingggi berkacamat. Kemudian waktu, ketika kulihat profilenya di homepage, dia bernama David Hall, lulusan Magna Cum Laude dari University of Missouri.
Kin Onn Chan
David Hall

Sekitar jam setengah sepuluh, Jaime tampil ke depan memberikan pembukaan dan kemudian seorang bapak-bapak berkumis dan berjenggot rapi dengan penampilan super santai; baju kaos dan celana kargo selutut tampil ke depan, berbicara dengan nada informal. Dia adalah Mark Mort, Chairman dari Graduate Admission Committee.. Dia meminta kami memperkenalkan diri secara singkat, nama, negara asal dan supervisor yang jadi sponsor. Setelah itu dia memberikan sejarah singkat EEB yang terdiri dari gabungan tiga lembaga besar, yaitu EEB sendiri, kemudian ada Biodiversity Institute dan terakhir adalah Kansas Biological Survey.

Kris Krishtalka

Jaime Keeler tampil terlebih dahulu untuk menyampaikan beberapa hal teknis yang terkait dengan perkuliahan mahasiswa graduate, baik yang mengambil Master atau program Doctoral. Kemudian Christopher Haufler, Chair of EEB yang pertama di antara ketiga department tersebut yang memberikan sambutan dan menjelaskan department yang dipimpinnya itu. Masih dengan atmosfir yang sangat santai. Kemudian dilanjutkan oleh Kris Khristalka dari the Biodiversity Institute. Rupanya Kris inilah yang kukenal di The Natural History Museum sebagai si Profesor berambut Megar.. Dia agak sedikit idealiesme orangnya, tapi tentunya sangat mumpuni di bidangnya yang terkait dengan paleonto-taksonomi. Dan terakhir adalah paul Liechti dari the Kansas Biological Survey yang mendalami bagian pemetaan dan biogeografi. Semua presentasi tersebut sangat menarik. Disampaikan dengan gaya yang santai dan menarik. Setelah ketiga presentasi tersebut berakhir, Mark Mort kembali tampil dan menutup orientasi kami tersebut dengan sekali lagi mengucapkan selamat datang kepada kami di EEB. Selanjutnya kami berfoto bersama. Saat itu, kusadari bahwa banyak cewek yang berukuran lebih tinggi dari diriku, selain Kate, masih ada As (Ashley Klymiuk) yang saat itu berpenampilan super seksi dengan mengenakan batu ketat bermotif tutul, rok mini super tinggi berwarna hitam dan sepatu bertumit tinggi yang sewarna dengan bajunya. Tidak lupa, melengkapi kesan keseksiannya tersebut, dia mengenakan stocking dengan garis hitam di bagian belakang, menghubungkan kaki belakangnya dengan tumitnya. Aku dan Chan sampai geleng-geleng kepala melihat penampilan yang sangat "Wah" tersebut. Memang di homepage si As ini tidak terlihat wah, tapi pas orientasi ini.....

Ashley Klymiuk

Selanjutnya Jaime memandu kami untuk tour singkat di dalam jurusan, memperkenalkan kami dengan beberapa bagian di EEB, termasuk ruang fotokopi dan berkas-berkas, ruangan ini bermanfaat terutama untuk mereka yang source incomenya dari GTA atau teaching Assistantship. Kemudian kami dibawa ke lab Microscopy dan diperlihatkan beberapa mikroskop supercanggih yang dapat digunakan nantinya untuk meneliti bidang-bidang kajian mirkobiologi, genetika dan perkembangan hewan. Aku cukup berdecak kagum juga melihatnya, terutama karena mahasiswa yang menjadi asisten labornya sangat cekatan menerangkan apa-apa yang ada di dalam labornya ini..

Setelah itu selesai, kami kembali berkumpul di kantor Graduate Admission tempat Jaime bekerja. Setelah menunggu sebentar, masuklah dua orang wanita, salah seorangnya mempunyai tato di tangan dan dekat dengan telapak kakinya (setelah itu aku tahu bahwa menatto diri cukup popular juga di antara para wanita, karena banyak yang kulihat mempunyai tato di aneka bagian tubuhnya). Setelah kami cukup terkumpul, kami dibagi dalam dua kelompok besar. Masing-masing kelompok dibawa dengan satu mobil van besar menuju downtown dan ternyata..... Di sanalah penderitaan ku selanjutnya berlangsung. Rupanya department mengadakan acara makan siang bersama. Makan siang itu diadakan di Aladdin's Cafe, salah satu cafe bernuansa Timur Tengah dan cukup popular nampaknya. Aku sebagai salah satu peserta dari orientasi ini harus ikut serta karena takut nanti dibilang anti sosial. Tapi justru yang parah adalah, akulah satu-satunya yang puasa di antara mereka.

Aladdin's cafe, Kansas

Hhhh... Terpaksa, saat yang lain memilih menu kebab atau grilled-chicken atau roasted lamb, dengan tambahan soup atau salad, aku hanya bisa menelan ludah. Tapi untunglah aku duduk bersama dengan orang-orang yang cukup mengerti bahwa aku lagi puasa. Antara lain Chan, kemudian ada Chao dari China yang mengambil gelar Masternya di department EEB juga. Lalu ada Kyungjin Min yang bertampang bak artis melodrama dan Chouru Shin yang kekar, keduanya dari Korea dan Mabel Alvardo Medit cewek dari Peru. Kami bercerita panjang lebar. Kemudian Kate datang dengan seorang cowok botak tapi bercambang lebat, kemudian Andreas menyusul dan duduk di dekat ku. Tambah asyik jadinya suasana tersebut.

Walaupun penuh tantangan, akhirnya acara makan siang tersebut dapat kulalui dengan baik tanpa harus tergoda mencicipi salah satu hidangan tersebut. Akhirnya kami kembali dibawa dengan van menuju ke Haworth tempat kemudian kami masing-masing membubarkan diri. Gara-gara terlampau lama acara makan siangnya, aku tidak sempat melaksanakan shalat Jum'at berjamaah di Islamic Center of Lawrence. Sampai-sampau Azhar menanyakan kenapa aku tidak ada di mesjid melalui Facebook nya.

Aku selanjutnya menuju ke McCollum Residence Hall untuk melihat apartmentku. Setelah melihat surat pengantarku, akhirnya aku disuruh untuk melihatnya sendiri ke lantai 4, bedasarkan nomornya, yaitu 462. Nomor pertama menunjuk kepada lantainya, nomor selanjutnya adalah nomor kamar. Saat ditunjukkan kamarnya oleh pemandu yang berada di lantai 4 tersebut, ternyata sudah ada orangnya di sana, seorang mahasiswa yang berasal dari China, bernama Lou Chang, yang mengambil master di bidang teknik atau komputer. Aku tidak begitu ingat. Aku melihat-lihat isi ruangan apartment yang memang lebih kecil dari duplex kepunyaan Carl. Tapi paling tidak di dalam apartment tersebut aku bisa memulai lembaran baru perkuliahan ku dengan lebih baik. Cuman memang perlu beberapa penambahan alat dan perlengkapan, sehingga akan lebih nyaman untuk ditempati. Saat itu, aku juga minta tolong kepada Lou untuk memperbaiki posisi tempat tidur yang terlampau tinggi. Kemudian, setelah itu aku pamit untuk kembali ke Missouri St. Untuk itu, aku menunggu kembali bis kampus di tengah terik matahari. Di sanalah kelemahan halte bis yang dari kaca tersebut, karena tidak bisa menahan cahaya matahari berhubung semua bagiannya dibuat dari kaca. Sambil duduk di bangku dalam halte, aku melihat banyak orang tua bule yang mengantarkan anaknya masuk ke asrama yang ada di KU ini, sekaligus membawakan peralatan yang akan dipakai mereka, seperti tempat tidur, peralatan rumah tangga, TV, radio dan sebagainya.

Saat kembali ke duplex Carl, aku segera memeriksa email dari David MacLeod. Ternyata memang benar akan ada Housewarming dan Tour singkat di sekitar KU yang diadakan mahasiswa dari International Association. Tour singkat diadakan selama satu jam untuk memberikan pengetahuan dasar kepada mahasiswa asing tentang lokasi-lokasi di dalam dan sekitar KU yang akan mereka perlukan selama perkuliahannya. Sedangkan Housewarming adalah event di mana akan ada pemberian berbagai perlengkapan rumah dan apartment secara cuma-cuma kepada mahasiswa international yang baru masuk termasuk sekalian dengan delivery nya. Waah, aku memang harus bersiap untuk event ini karena sangat bermanfaat, sekaligus bisa menghemat dana yang akan kuperlukan untuk menyambung hidup sampai GRA ku cair.

Setelah itu, kuhabiskan waktu dengan tidur-tiduran. Di dalam duplex tidak biasanya terasa panas. Menambah penderitaanku yang seharian ini sudah terjemur di luar di bawah terik matahari. Siang itu, ketika kulihat di internet, suhu mencapai 88 derajat Fahrenheit atau sekitar 31 derajat Celcius. Hhhhh... Pantas. Aku memutuskan untuk tiduran saja, sambil menunggu waktu berbuka.

Jam delapan kurang, aku terbangun, Kembali seperti cerita yang lalu, aku bersiap untuk ke Islamic Center untuk berbuka. Suasana jauh lebih ramai dari sebelumnya dengan banyak wajah baru yang nampak. Yang lama juga masih ada. Pada berbuka hari itulah aku ketemu dengan orang-orang Arab yang dulu kujumpai di depan Kansas Union yang kemudian menunjukkan aku untuk datang ke Islamic Center ini di waktu berbuka. Ahhh... Makanan kali ini juga lebih lezat dan lebih besar porsinya... Ada ayam goreng dan daging kambing yang digulai. Plus dengan beberapa kue enak. Ada satu kopi yang katanya khas Arab. Kopi itu tidak berbau kopi, tapi malah berbau rempah yang sangat keras. Duo Malaysia yang duduk di dekatku saja tidak tahan mencium baunya, apalagi sampai meminumnya. Tapi kayaknya semua orang Arab yang ada di ruangan tersebut memang hanya meminum se sloki kecil ramuan kopi tersebut.

Kali ini aku berkenalan dengan dua orang baru, Rasheed dari Bangladesh yang tampangnya agak mirip dengan karakter Mohinder di serial Heroes. Lalu ada seorang dokter yang berasal dari Pakistan, bernama Abdu Illahi kalau tidak salah. Aku bercakap-cakap dengan dokter ini cukup lama, di samping karena dia suka ngobrol, aku juga perlu mengurangi rasa kembung di perutku karena kebanyakan makan hidangan yang ada. Sampai akhirnya adzan Isha dikumandangkan, aku memutuskan untuk shalat berjamaah di sini saja.. Setelah shalat, aku agak lama membaca doa dan dzikirnya, sehingga ketika akan shalat rawatib, mendadak salah seorang dari hadirin yang kuketahui sering menjadi imam, kembali berdiri di posisi depan bagian imam. Ia langsung membaca takbiratul ikhram.. Waah, ternyata di Islamic Center ini ada shalat tarawihnya... Tidak sama seperti yang kudengar kemaren-kemaren. Tapi memang benar juga bahwa karena kesibukan kerja di esok harinya, banyak dari umat Islam yang datang saat berbuka ini lebih memilih shalat tarawih di rumah saja dengan tujuan agar dapat beristirahat lebih banyak sehingga bisa segar untuk bekerja esok harinya.

Oke deh.. Shalat tarawih di sini dilakukan dua rakaat dan satu salam. Witir pun dilakukan dua bagian, dibagi menjadi dua plus satu rakaat dengan dua salam. Nah pada satu rakaat terakhir witir inilah, imam membaca doa qunut yang sangaat panjang.... Tapi tidak apa, aku justru malah senang karena banyak amalan jadinya yang bisa dilakukan. Sehingga saat kembali pulang menuju Missouri, aku sudah tidak kembung lagi. Bisa istirahat dengan tenang malam ini untuk selanjutnya besok bersiap-siap pindah ke apartment baruku di McCollum Residence Hall.

Alhamdulillah.....................

Jumat, 19 Agustus 2011

Happy Day


Senang sekali aku ketika berkunjung ke Lippincot Hall mendapati hasil Applied English Test ku cukup memuaskan. Test yang kemaren dilakukan di Budig Hall telah memberikan hasil 518 dari nilai total 600. Dengan demikian, aku tidak perlu mengikuti Applied English Course dan dipersilakan untuk melenggang berkuliah langsung di department ku, Ecology and Evolutionary Biology (EEB).

Hasil ini juga sekalian mencabut penangguhan (hold terakhir) yang masih dilekatkan pada status admission ku... Dengan demikian, aku sudah bisa membuka KU Enroll & Pay page di KU Website dan mulai mengambil mata kuliah yang kuinginkan. Tentu saja itu semua dilakukan secara online. Dua mata kuliah wajib yang harus diambil oleh setiap graduate student adalah BIOL 701 Topics in Ecology and Evolutionary Biology serta BIOL 841 Biometry I. Kuliah yang pertama adalah kuliah yang terkait dengan pengkhususan perkuliahan kami di EEB, dan kebanyakan akan disampaikan dengan cara seminar. Sedangkan yang kedua terkait dengan bidang statistik. Hmmm, mudah-mudahan apa yang dipelajari dulu waktu S1 dan S2 bisa digunakan di sini. Kuliah yang satu ini juga dilengkapi dengan praktikum 1 jam pelajaran...
My Schedule

Kayaknya aku masih punya kredit lebihan untuk semester awal ini. Dan tentunya sesuai dengan buku panduan KU, kami harus berdiskusi dulu dengan supervisor yang sudah ditunjuk untuk kami. Naah, saatnya berdiskusi dengan pembimbingku (kebetulan untukku ada dua orang, Dr. Robert G. Moyle dan Dr. A Townsend Peterson). Orang yang disebut kedua seperti yang kusebutkan dalam postingan terdahulu, tengah berada di Mongolia dalam ekspedisi untuk pengumpulan spesimen bagi Museum Natural History di KU ini. Jadi, aku tinggal mencari Rob (panggilan untuk Dr. Robert G. Moyle) ini ke Dyce Hall, tempat the Natural History Museum berada.

Dr. Robert G. Moyle

Sampai di sana, aku langsung menuju ke pintu masuk bawah yang berada di bawah patung bird of Victory, yaitu patung burung rajawali di sarangnya dan tengah menyuapi dua ekor anaknya. Dari pintu itu, aku langsung menuju ke lift yang berada di sebelah kirinya. Sebenarnya aku bisa saja langsung menuju ke lantai 7 tempat Rob berada, karena aku sudah punya kunci untuk tombol lift ke lantai 7, tapi aku mampir dulu ke lantai 6, ke tempat Lorie, sang administrator di Natural History Museum tersebut. Tepat ketika aku keluar dari pintu lift, Lorie juga sedang keluar bersama seorang profesor yang kuketahui bergelut di bidang mamalia. Rambutnya yang megar bak singa dan berwarna keperakan membuatku selalu berpikir bahwa kadang pekerjaan yang terlampau sibuk bisa membuat orang menjadi lupa dengan penampilan. Tapi entah juga lah, karena kalau aku melihat supervisor ku Rob, dia sangat keren sekali. He he he...

Langsung kutanyakan, apakah sudah ada kabar dari Dr. Town, terkait dengan GRA ku... Lorie menjawab dia tidak tahu menahu tentang itu dan menyarankan aku untuk langsung bertanya pada Rob, karena Rob yang menghubungi Dr. Town melalui email. Kebetulan Lorie dan si Profesor Rambut Megar akan ke lantai 7 juga. Lorie mengenalkan aku padanya. Tapi sayangnya, karena sekali lagi short-term memory ku yang sering reboot, saat menuliskan note ini aku lupa lagi namanya. Sampai di lantai 7, aku berpisah dengan mereka berdua dan menuju ke ruangan Rob. Kebetulan dia lagi berada di mejanya tengah mengerjakan sesuatu. Aku menyapanya dan minta ijin masuk.

Setelah berbasa basi, aku langsung mengutarakan apa yang menjadi tujuanku. Yang pertama tentunya adalah untuk mendiskusikan apa lagi kuliah yang harus kuambil di samping dua mata kuliah wajib yang sudah disosorkan oleh Jamie Keeler sang Graduate Adminitrator kepadaku melalui email. Rob minta waktu sebentar, mencoba mencari di komputernya, terutama di email resmi KU-nya, karena sepertinya sesama kolega mengajar di KU saling memberitahukan tentang apa mata kuliah yang akan mereka ajarkan. Sehingga satu sama lainnya saling mengetahui. Setelah mengamati sebentar, Rob menyodorkan layar komputernya kepadaku dan menunjuk email dari koleganya yang mengirimkan notice mata kuliah Systematic and Macroevolution. "It's good if you join this class" katanya. Oke deh.. Aku gak masalah. Kebetulan saat itu, salah seorang instructor mata kuliah yang kami bicarakan tersebut masuk. Aku diperkenalkan Rob kepadanya. Profesor tua ini bernama Bruce Lieberman. Setelah sedikit ngomong-ngomong, Prof. Bruce berlalu. Aku kemudian bertanya lagi apa mata kuliah yang bagus untuk diambil dalam semester awal ini. Rob mengatakan bahwa 10-12 jam kuliah dalam semester awal ini sudah cukup sebenarnya. Tapi dia menyerahkan kepadaku kalau masih ada yang ingin kutambahkan. Misalnya seperti seminar ilmiah yang diadakah oleh orang-orang ornithology di Museum setiap hari senin di Kansas Union. Di sana peserta seminar membahas jurnal-jurnal ilmiah dan saling berdiskusi satu sama lainnya....

Oke deh.. Setelah selesai berdiskusi tentang masalah akademis, aku kembali bertanya ke Rob tentang Dr.Town. Terutama terkait dengan nasib GRA dan Social Security Number ku yang saling berkaitan.. Ternyata Dr. Town bisa kembali lebih cepat, yaitu Rabu minggu depan, sehingga kami bisa membicarakan masalah ini lebih cepat. Kemudian aku juga menanyakan tentang kiriman dokumen foto rontgen gigi ku yang kemaren dikirimkan oleh saudaraku Imul untuk kepentingan test kesehatan. Ternyata Rob sudah memberikannya kepada Robyn untuk diberikan kepadaku sesampainya di rumah nanti. Dan hal terakhir yang kutanyakan adalah tentang barang-barang kiriman dari IdeaWild berupa seperangkat mistnet dan alat-alat pencincinan. Rob mencari-cari sebentar di sudut atas lemari ruangannya dan mendapatkan sebuah kotak berukuran sedang yang dialamatkan kepadaku dengan menumpang kepada alamatnya di Museum ini. Huff, lega...


Akhirnya setelah semua yang terkait dengan pembimbingku yang satu itu selesai, aku minta ijin untuk pergi. Sebelum pergi, Rob mengatakan bahwa dia akan pergi keluar daerah sampai akhir minggu dan baru masuk setelah Senin atau Selasa minggu depan.

Strong Hall

Kansas, August 17 2011



Judul di atas nampaknya sudah sangat mono untuk dituliskan, karena sejak dari pertama kali aku membuat catatan ini, sudah memakai template yang sama. Apa boleh buat. Tapi memang, hari ini pikiran ku sedang mono, mengingat beberapa hal yang kurang menyenangkan yang kudapatkan di hari ini.. Pertama, tentu saja karena aku tidak bisa merayakan hari ulang tahun RI dengan paling tidak melakukan hormat bendera saat dikibarkan dalam suatu upacara kebangsaan. Yaah, mau gimana lagi, aku belum tau dimana kedubes RI di Kansas ini. Imbasnya bukan hanya itu, aku sampai sekarang juga belum melaporkan kedatanganku ke sana, karena dalam salah satu butir kewajiban yang tercantum dalam surat tugas yang dikeluarkan oleh Menteri Sekretaris Kabinet adalah, aku harus segera melaporkan kedatanganku kepada KBRI setempat. Tunggu deh.... Nanti deeh... Ntar lagi laaah.....

Upacara BenderaHal berikutnya yang membuatku "mono" adalah saat aku menyadari aku ketombean. Pagi ini, jam delapan, aku mengikuti tes Bahasa Inggris di 110 Budig Hall. Tes tersebut memakan waktu sekitar hampir empat jam, dimulai dari jam delapan lewat sedikit dan selesai jam dua belas kurang.. Pas di tes pertama yang terkait dengan vocabulary dan reading comprehensive, ada 50 butir pertanyaan yang berdasarkan kepada 5 short-passages... Beberapa soal bagian awal yang mudah, dapat dilalui dengan lancar...Pada soal-soal akhir, nampaknya tingkat kesulitannya makin bertambah. Naah, di saat itu lah aku mulai garuk-garuk kepala yang mendadak gatal karena mulai stress.... Eeh.. Dari garukan ini, turun perlahan-lahan bak salju di musim dingin, serpihan-serpihan putih ketombe... Emaaaaakkk.... Jauh-jauh ke negeri orang ketombean?? Akhirnya, saban garuk kepala, serpihan putih tersebut berhamburan. Mudah-mudahan para proctor (pengawas) dan peserta ujian gak menyadari hal ini... Kayaknya gak lah, karena sampai bagian terakhir dari test ini dilakukan, yaitu timed essay, semua peserta test tepekur menatap kertas ujiannya masing-masing.. Sedangkan para proctor lebih suka menatap kertas hasil ujian kami atau ngeliat ke hitungan mundur yang ditayangkan melalui proyektor in focus... Oh ya, dalam timed essay ini, kita diminta untuk membuat karangan singkat dalam waktu 30 menit berdasarkan tema yang diberikan. Tema pertama tentang "Interview with famous people" dan yang kedua "How to live as Single Parent".... Naah, yang kenal saya pasti tau mana yang akan saya pilih... "Interview with famous people"... Dan bagi yang kenal saya lebih mendalam, termasuk kenal dengan kegilaan saya, pasti tau, siapa yang saya jadikan dasar membuat essay ini, karena dalam topik ini kita disuruh membayangkan orang terkenal untuk diwawancarai... Yap.. Yap... Benar, Lady Gaga.... Ha ha ha... Yang mau muntah, yang mau pingsan, mau diare, mencret atau koma, silakan... Saya udahan tadi...
Lady GagaMaksud saya memilih gadis unik nyeleneh ini bukan apa-apa sih. Saya biasanya lebih mudah menulis tentang sesuatu yang sifatnya aneh dan di luar kebiasaan, sehingga kalau saya ambil temanya tentang ini, maka bisa dengan mudah saya menuliskan essay yang waktunya sangat dibatasi ini. Dan benar saja, pas bel berbunyi, hampir dua halaman lembar jawaban itu sudah selesai saya tulisi.... Oh ya, di dalam test ini saya juga berkenalan dengan seorang pemuda dari Kuwait yang nama pertamanya juga sama dengan saya, Muhammad.. Dianya sih gak percaya waktu saya kenalkan diri bernama Muhammad dan beragama Islam... Emang kenapa sih dengan penampilan saya?? Gak keliatan apa aura muslim saya ya...??? He he he... Tapi si Muhammad dari Kuwait tadi lumayan baik anaknya dan kayaknya juga taat, karena masih melaksanakan puasa. Dia katanya mau mengambil Bachelor nya di bidang komputer.. Selesai ujian, kami berpisah dan berjanji bertemu kembali besoknya jam 8 di Lippincot Hall untuk mengambil hasil ujian tersebut. Mudah-mudahan hasil saya cukup tinggi untuk mencabut hold terakhir ini....

Masalah berikutnya yang bikin "MONO" adalah sesuatu yang saya sendiri namakan dengan flu jam 3... Berdasarkan hasil pengamatan saya sendiri, sejak sesampainya di Kansas ini, setiap kali jam 3 dan kadang-kadang berlangsung sampai dengan pukul 5 siang (di sini jam 5 masih setara dengan jam 1 siang di Indonesia) itu flu mulai gentayangan di tubuh saya. Ciri-cirinya, pada jam tersebut, saya akan merasakan sensasi dingin yang berlebihan di sekujur tubuh bahkan nyaris menggigil, kemudian diikuti dengan iler yang mulai membanjir di hidung dan disusul dengan bersin yang berturut-turut. Apakah ini bagian dari penyesuaian bioritmis saya, saya juga belum tau.. Tapi kalau iya, mudah-mudahan dapat segera berlalu... Seperti cerita film, BAJAI PASTI BERLALU.... Ha ha ha....

Ohya, kembali bercerita tentang buka puasa, saya kembali melakukannya di Islamic Center of Lawrence.. Saya ke sana jam delapan sore lewat sedikit karena masih saja ketiduran. Kali ini ketidurannya karena sebenarnya tadi pagi saya lupa sahur, sehingga mulai dari pagi sampai siang saya udah sotoy sekali.. Jadinya, setelah melewati Sindrom Flu Pukul 3, saya hanya bisa tertidur loyo... Mana kepala puyeng tujuh muara (emang pasir aja yang bisa tujuh muara??)...

Nah, pas saya sampai di sana, adzan maghrib udah dikumandangkan. Saya memang tidak mendengar adzan, karena di sini advertising sesuatu yang berbau keagamaan dilarang oleh pemerintah dengan alasan kenyamanan public. Adzan dianggap sebagai salah satunya..  Yah, sudem lah... Yang penting kita masih bisa melaksanakan ibadah lain yang lebih penting seperti shalat dan puasa.

Saya segera menuju ke basement di mana para pria sudah berkumpul di sana. Pas di tangga mau turun, saya mendengar keriuhan suara wanita dari tingkat atas Islamic Center tersebut. Ternyata kaum muslimah nya berbuka puasa di lantai atas...

Seperti biasa, berbuka dengan yang manis-manis bisa dilakukan dengan korma yang dikemas dalam bungkusan 50 gram. Butuh sedikit perjuangan membukanya karena dipacking dengan cara hampa udara dan dalam plastik yang cukup tebal.. Tapi emang dasarnya udah lapar, yah, kebuka juga dianya. Kemudian dilanjutkan dengan minum susu non fat kayak kemaren dan ditambah dengan sepotong cake manis...

Kemudian kembali shalat maghrib berjamaah, dengan bacaan ayat yang singkat-singkat saja. Kayaknya imam mahfum bahwa puasa yang 16 jam ini perlu segera dituntaskan dengan makanan yang sudah menunggu di basement. He he he....

Kesempatan mulai dari berbuka tadi sampai dengan usai shalat maghrib berjamaah ini kumanfaatkan untuk mengamati orang-orang Islam dari berbagai penjuru dunia.. Beberapa yang kukenal sejak kemaren sudah nampak, antara lain duo Malaysia, Nader, Gareth, para pemuda Niger yang hitam dan tinggi, kemudian bapak-bapak Arab serta pemuda-pemudanya yang tinggi-tinggi. Mereka masih sama mengesankannya dengan kemaren. Tubuh rata-rata tinggi, mukanya jarang yang klinis, pasti ada jenggot dan kumis, alis tebal dan membentuk alur yang tajam pada matanya, bulu mata lentik serta hidung yang tinggi bongkok. Mereka umumnya berkelompok sesamanya, karena di dalam komunitas Islamic Center ini, mereka adalah mayoritasnya. Aku juga mengamati seorang bapak-bapak kulit hitam yang tampangnya mirip dengan Nelson Mandela shalat sembari memegang dan membimbing tangan anaknya yang mempunyai kepala nongnong berbentuk buah pir... Sedangkan beberapa yang lain masih ada yang shalat dengan menggunakan celana gembor selutut.... Hanya dua atau tiga orang yang kulihat memakai sarung....

Di basement orang kembali sudah mengantri. Kali ini aku berada di barisan para pria India.. Salah seorangnya mempersilakan aku untuk antri di depannya, tapi kutolak, karena dia yang datang duluan.... Kemudian kami bercakap-cakap, karena dia nampaknya cukup senang ngobrol. Dia langsung tahu kalau aku berasal dari Indonesia, berdasarkan dari logatku.... Jadilah setelah mendapatkan makanan, saya duduk barengan dengan dia dan komunitas India yang ngobrol cukup riuh.. Aku mendengarkan mereka ngobrol sambil sesekali mendengarkan apa yang diucapkan oleh pria India yang satu tadi kepadaku. Secara keseluruhan, mendengarkan komunitas India ini ngomong sama seperti mendengarkan narasi yang dibacakan aktor Madhavan di sepanjang adegan film 3 Idiots... Cuman pada sesi tayang-langsung ini, aku dapat melihat riilnya bagaimana orang India kalau ngobrol.. Mereka pasti menggerak-gerakan tangan dan kepalanya, persis seperti orang lagi menyanyi... Ingat saja bagaimana atraktifnya Briptu Norman yang sempat menghebohkan tanah air dengan aksi goyang Chaiya-chaiya nya... Nh, kira-kira samalah orang India itu dengan contoh yang diberikan oleh si Briptu Norman itu....

Makanan hari itu, kembali nasi kare berbumbu dan dicampur langsung dengan ayam suir, sayurnya adalah paprika hijau dan kuning dengan kentang dan dimasak agak pedas dengan daging giling, serta soupnya adalah mayonaise yang dicampur dengan potongan ketimun...

Laziiiiiiiiissss.....

Ketika setelah selesai makan dan waktunya untuk bersosialisasi, saya diskusi bareng satu meja dengan duo dari Malaysia ditambah dengan seorang Bapak negro yang bertubuh tambun dan sering memakai peci putih dan sarungan. Beliau enak diajak ngobrol, karena punya wawasan yang cukup luas. Katanya sih dia sudah pernah tinggal di berbagai negara dan katanya lagi kemudian ketika kami pulang bareng, dia sudah menikah beberapa kali hampir di setiap negara tempat dia pernah tinggal. Saat sedang asyik-asyiknya ngobrol itulah, saya didapuk oleh tuan rumah yang orang Timteng untuk membantu mencuci piring bersama dengan duo Malaysia tadi... Sippp... Dengan senang hati aku terima....

Di dapur, Aku kebagian membersihkan piring dan alat-alat makan dari sisa-sisa makanan dengan semprotan air panas. Sedangkan pemuda Malaysia yang pertama menggunakan busa sabun dan spon untuk membersihkan dan pemuda Malaysia berikutnya yang membilas sampai bersih. Jadi ada tiga bak besar untuk keperluan tersebut dan kami berdiri di depan masing-masing bak tersebut, sesuai dengan fungsi yang tadi. Tidak lupa memakai celemek, agar percikan air tidak terlampau banyak mengenai baju.. Karena mencuci piring dengan gaya baru ini cukup mudah dan menyenangkan, tidak terasa, semuanya selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama..
Kira-kira seperti ini bak yang menjadi bagianku ketika mencuci piring

Selesai mencuci piring, kami segera beres-beres dan bersiap untuk pulang.. Karena berencana mau ke mart, aku keluarnya lewat pintu utama di bagian selatan, bersama-sama dengan pemuda Malaysia yang berkacamata dan Bapak Negro tambun yang ngobrol denganku seusai makan tadi.. Si pemuda Malaysia yang kemudian kukenal namanya dengan Azhar Hamzah, menanyakan aku mau kemana.... Begitu tahu aku mau ke mart, dia mengatakan bersedia mengantar karena katanya jauh.. Kupikir juga lumayan lah dapat tumpangan, karena ke sana tidak dekat juga.... Apalagi kalau malam. Tapi Azhar harus mengantarkan si Bapak Negro tadi dahulu... Setelah dari sana, kami langsung menuju ke mart yang dimaksud.. Sesampai di sana, Azhar mengatakan kalau mart yang dimaksud itu bukan Mart, tapi jaringan ritel yang bernama Dillons. Sedangkan Mart yang sering kusebut-sebut sebelumnya identik dengan WalMart, salah satu jaringan ritel yang sangat besar.. Dillons ini juga termasuk cukup terkenal di banyak negara bagian Amerika dan katanya dimiliki oleh turunan India... Ini mengingatkanku pada S. Dillon yang sering keluar di TV nasional dulu saat ada kasus-kasus ekonomi atau forensik ya?? (Nah lo, lupa jadinya yang mana)... Tapi yang jelas, S. Dillon yan kubayangkan ini, orangnya orang India Punjabi gitu, pake topi kayak sorban bergelung gitu.... Ha ha ha...

Dillons Store

Di sana aku membeli bekal untuk sahur besok, yaitu roti gandum, mie gelas, selai dan buah cheri.. Aku penasaran dengan buah yang dibungkus dalam plastik besar itu... Azhar mengajarkanku tentang bagaimana memilih bahan makanan yang halal, yaitu dengan melihat kode yang ada di bungkus makanan tersebut. Jika ada kode (U) dan K itu artinya halal untuk muslim dan bisa dikonsumsi. Sedangkan jika ada kode G atau di dalam komposisi makanannya ada tercantum gellatin, itu berarti makanannya mengandung lemak atau bahan dari daging babi. Sedangkan untuk bahan makanan yang dari tumbuhan, seperti sayur, buah dan rempah-rempah, bisa dipastikan halal. Ia kemudian juga mengajarkanku bagaimana menggunakan mesin bayar otomatis. Mesin ini dilengkapi dengan alat scaner barcode untuk mengetahui berapa harga barang.. Setelah selesai semuanya di scan, tinggal dijumlahkan, kemudian uang pembayaran dimasukkan ke dalam satu slot.. Kalau duit yang kita bayarkan berlebih, maka akan keluar kembaliannya... Kebetulan belanjaku $20,86... Ketika kumasukkan $21 yang terdiri dari pecahan $20 dan $1, keluarlah kembaliannya berupa uang logam imut-imut... Kincling-kincling-kincling.....He he.. Ternyata begitu toh caranya...
Selanjutnya Azhar mengajakku ke rumahnya yang tidak jauh dari Dillons tersebut.... Aku sih oke-oke saja, karena memang lagi tidak ada kerjaan. Besok juga hanya mengambil nilai ujian bahasa Inggris. Sambil menyetir, Azhar menceritakan kalau dia sudah punya istri plus satu orang anak berumur 3 tahun dan istrinya yang kuliah di KU. Sedangkan dia bekerja di Dunkin Donuts di dekat sana, karena punya visa J-2 yang memungkinkannya bekerja. Sampai di rumahnya, ternyata rumahnya cukup asri, dua tingkat, dan lumayan lengkap isinya. Dan lebih mengejutkan lagi, ternyata sewa per bulannya hanya $570. Lebih murah dari sewa apartment dan duplex yang in campus.. Satu lagi kejutannya, rumah yang ada tepat di sebelah rumah Azhar, dengan bentuk dan tipe yang sama, tengah kosong dan akah disewakan oleh pemiliknya dengan harga sewa yang sama... Hoooooh, aku jadi tergoda..... Tapi berhubung duit lagi menipis dan aku sudah membayar untuk apartment di McCollum Residence Hall, aku harus menahan diri dulu...


Di rumah Azhar yang asri itu aku menonton tivi sambil bercakap-cakap dengan yang punya rumah. Kebetulan istri dan anaknya lagi mudik untuk persiapan Idul Fitri di kampungnya Malaysia.. Jadi lah kamu berdua bujangan yang terpisah dengan orang-orang tercinta untuk sementara waktu.. Sambil minum CocaCola dan mengunyah fritos crispy, kami nonton film detektif tentang penculikan anak oleh sepasang suami istri psycho.. Sehabis film itu, Azhar mengantarku kembali ke Missouri Street. Kamii berjanji untuk lebih sering kontak-kontakan lewat Facebook. Aku memang butuh banyak informasi tentang kehidupan di sini dan Azhar dengan senang hati mengatakan ingin membantu untuk itu. I say good bye to this new friend..

Buka pintu duplex dengan kuncinya Carl. Sudah cukup malam ternyata, jam sebelas lewat. Robyn lamat lamat kudengar masih ngobrol dengan temannya di telepon. Aku gak mau mengganggunya.. Terus ke kamar dan bersiap-siap untuk tidur...

Hmmmmmmm.... Cukup sudah petualangan untuk hari ini....

Kansas, Still on August 16 2011


Jam tiga sore waktu lokal, seperti yang kemaren-kemaren kujabarkan dalam tulisanku, adalah waktu yang paling genting terkena pengaruh jam biologis yang masih terbawa dari alam Indonesia yang harusnya masih dini hari di jam tersebut... Sudah beberapa hari semenjak kedatangan, aku menjadi korbannya: tepar pada jam tersebut, bahkan bisa sampai jam 9 malam waktu Kansas.. tapi untungnya, keteparan dalam rentang waktu tersebut menghantarkan diriku tepat pada saat berbuka puasa. Di sini, berbuka adalah pada jam 8.30 pm alias jam setengah sembilan malam.... jam 8 saja matahari masih nongol dan suasana terang benderang.... Nah, hari ini aku ceritanya setelah selesai dengan kegiatan kampus sampai jam 12an, tiba kembali ke rumah pada jam dua dan langsung tepar tertidur pada jam tiga nya...

Sedang asyik ketiduran, aku kayak mendengar suara grasak grusuk dari kamar sebelah.. Bunyi seseorang sedang bercakap-cakap yang jika kudengarkan bukan berasal dari burung kakaktua yang dipelihara oleh home-mate nya Carl. Wah, kalau bukan burung parrot itu, siapa atau apaan tuh? Tapi dasar karena tubuh yang masih loyo, aku hanya mendengarkan saja suara tersebut. Sampai ketika pukul lima, mulai agak lebih heboh... Kedengaran bunyi gedubrak gedubruk di bagian ruang tamu duplex yang aku tempati ini.. Dengan memaksa mata yang sepet karena masih ngantuk, aku keluar kamar dan jreng-jreng-jreng...... Di kamar sebelah berdiri seorang perempuan berwajah Asia tengah beres-beres di kamar tamu dan di kamar sebelahnya kamar Carl.... Kalau dibawa ke situasi di tanah air, jika dalam suatu rumah ada seorang cewek dan mendadak dari arah lainnya muncul cowok bertampang semi-garong yang baru saja selesai bangun tidur, tu cewek pasti akan jejeritan... Tapi dia dengan santai menyapa, "Hey, I'm Robyn... Are you Carl's friend?" Cewek itu langsung membawa memoryku pada list mahasiswa EEB yang kulihat di website department ku... Aku ingat betul dia, karena profile nya berada tepat di bawah profile ku.. Bedanya, jika aku memegang dua ekor burung srigunting di tanganku, dia memegang seekor elang besar di tangan kanannya...

Robyn Mei Jones Doctoral aspirant in EEB

Aku segera memperkenalkan diri.. Maklum la, udah beberapa hari menempati rumah orang, mendadak salah seorang dari yang punya rumah pulang, kalau di Indonesia pasti udah digeber akunya ke rumah RT setempat buat ditanyain. Tapi itulah bedanya dengan di sini. Kenyataan bahwa aku (atau dalam kasus lainnya adalah Carl) tinggal serumah dengan cewek (yah, di sini harus dijelaskan, tinggalnya pada kamar yang berbeda) bukanlah isu besar di sini.. Masyarakat di sini bilangnya "Cuek aja lagee,,," Ha ha ha... Robyn ternyata orangnya ramah dan tidak mempermasalahkan kalau aku sudah lama tinggal di kamar Carl. Dia justru senang dapat membantu mahasiswa baru yang nanti akan berada pada jurusan yang sama dengan dirinya. Terlebih juga Carl akan pergi dalam waktu yang lama, karena ada kerja lapangan di Filipina selama 5 bulan.. Duuuh, mudah-mudahan keluarga dan tentunya yayang ku tercinta gak mengira-ngira yang jelek kalau aku tinggal di sini sementara satu rumah dengan seorang cewek.. Gak lah, aku gak bakalan ada apa-apanya..

Kami bercakap-cakap sejenak. Ternyata Robyn baru kembali dari rumah bibinya di California seminggu yang lalu. Sebelumnya dia menghabiskan liburannya di Filipina juga untuk melakukan kerja lapangan dan koleksi. Dia  bercerita tentang orang-orang yang sekarang ada di lab tempat aku bakal bekerja nanti dan pernyataannya sama dengan pernyataan dari Kate yang mengantarkanku dari Bandara ke sini dulu, bahwa semua person yang ada di lab kami adalah orang-orang yang menyenangkan. Oke deh... Karena masih ada kantuk yang tersisa, aku permisi dulu buat kembali ngelindur.. Aku pengen pas berbuka nanti udah segar kembali dan bisa datang ke Islamic Center seperti yang dikatakan oleh orang Arab yang kutemui di depan Kansas Union.. So.. Let's ngelindur broo.....

Wah, walaupun aku mencadangkan waktu untuk dapat bangun pada jam 7, biar bisa keliling dulu ke Dillon's mart, tempat aku bisa mencari barang-barang kebutuhanku, ternyata baru benar-benar bisa bangun pada pukul delapan kurang.. Jadi jika ditotalkan dengan waktu yang dipakai untuk mandi, beberes dan dandan seadanya, udah jam delapan malam lewat. Yaah, aku harus batalkan kepergian ke mini mart nya, dan langsung saja ke Islamic center yang di sudut jalan 19th street.

Islamic Center of Lawrence
Sign Board of Islamic Center of Lawrence

Benar saja, suasana sudah mulai ramai di sana. Beberapa keluarga sudah datang, para istri mengenakan hijab atau jilbab yang modelnya bergantung pada mode yang sedang ngetrend di negerinya masing-masing.. Pas mau masuk ke dalam ruangan yang difungsikan sebagai mesjid, aku celingak-celinguk melihat-lihat situasi, kalau-kalau ada orang.. Bertepatan dengan turunnya dua orang yang kukira berasal dari negara Timur Tengah begitu. Seorang yang lebih tua menanyakan mau apa? Aku menjawab bahwa aku pengen ke mesjidnya... Dia mempersilakan aku masuk dari pintu selatannya.. Yap, benar. Aku langsung ketemu dengan pintu ke ruangan mesjidnya. Setelah berwudlu, aku masuk ke ruangan mesjid, shalat dua rakaat dan kemudian melihat sekeliling... Ada beberapa orang di sana, kebanyakan bertampang Timteng tadi.... Ada beberapa yang berkulit hitam yang kemudian kuketahui berasal dari Nigeria di Afrika.. Juga ada yang berkulit putih.. Kupikir bule setempat yang telah berpindah agama memeluk Islam. Tidak berapa lama duduk, salah seorang yang bertindak sebagai gharin di ruang mesjid tersebut langsung mengumandangkan adzan tanda masuk waktu maghrib dan isyarat untuk berbuka.. Semua orang langsung menuju ke basement atau lebih tepatnya, basement adalah tempat berbuka khusus untuk lelaki. Sedangkan yang wanita, berbuka di tempat yang terpisah. saat aku melangkah menuju ke sana, seorang pria bertampang bule melemparkan sebotol air putih untuk kuminum. Pria itu kemudian kukenal bernama Nader, berasal dari Lebanon.

Di basement sendiri sudah banyak orang. Mereka umumnya duduk pada kursi yang diletakan berbaris di meja-meja panjang. Di atas meja ada korma yang dibungkus dalam paket-paket kecil. Juga ada gelas-gelas styrofoam dan botol-botol air minum berukuran kecil. Aku menuju ke salah satu meja yang masih kosong, belum berani bergabung dengan meja yang sudah berisi. Maunya sih sambil mendengarkan dan melihat situasi. Tentunya sambil memakan hidangan yang ada di atas meja. Sebagai tambahan, di dalam botol yang berukuran besar ada susu non fat yang rasanya tawar, tapi sangat enak karena didinginkan di dalam kulkas... Aku memuaskan dahaga semenjak siang tadi dengan air putih dan susu non fat tadi. Tak lupa juga menghabiskan sebungkus korma. Segar badan rasanya. Sementara umat yang datang semakin banyak dan semakin beraneka bentuk.

Date (korma)

Kemudian maghrib dilakukan secara berjamaah di ruangan mesjid. Di sini baru kelihatan lumayan banyak penganut Islam yang ada di Lawrence ini. Ada pria dari Jordania dengan beberapa orang anggota keluarganya. Orang-orang ini sering kukira sebagai bule karena mereka memang berambut pirang, berkulit pucat dan bermata biru. Umumnya mereka yang berasal dari Timteng memang masih berbagi gen Caucasoid dengan mereka yang ada di negeri Eropa dan Amerika. Kemudian ada lagi mereka yang dari Arab. Mereka ini umumnya berbadan tinggi besar. Aku paling terkesan dengan hidung mereka yang mancung tapi agak bengkok dan bulu mata prianya yang lentik, memberi aksen tertentu untuk garis matanya yang tajam. Lalu ada juga para pria Niger yang tinggi-tinggi dan berpakaian seperti pemain NBA. Sedangkan yang dari Asia, tentunya diwakili oleh diriku dan dua orang pemuda Malaysia. Ditambah dengan beberapa orang dari India yang muslimnya dan beberapa orang Pakistan. Di sini, kedua suku bangsa tersebut terlihat rukun dan damai, beda dengan di negaranya yang selalu terlibat konflik perbatasan sampai ke konflik nuklir.. Ha ha ha...


Setelah selesai maghrib, kami kembali ke basement untuk melanjutkan acara makan penganan yang lebih berat lagi. Orang makin ramai karena makin banyak yang datang. Kami antri untuk mendapatkan nasi kari, sayuran, daging giling yang dimasak seperti sosis tanpa kulit dan ayam dalam potongan besar yang dimasak dengan rempah-rempah yang aku tidak begitu kenal rasanya. Di depanku ada dua orang pemuda bule TimTeng.. Mereka secara bergantian pergi menyalami ayah atau kakeknya yang berada lebih ke depan dari antrian.. Aah, senangnya melihat mereka, bertampang bule, tapi gape dalam berbahasa Arab Parsi.. Sementara di belakangku dua orang anak kecil, yang satu sepertinya keturunan TimTeng sehingga jelas kelihatan bulenya, sedangkan yang satu lagi adalah anak orang India atau Pakistan. Keduanya ngobrol dalam bahasa inggris yang fasih, cuman si bocah India/Pakistan dengan aksen yang mirip dengan bocah India di dalam film Diary of the Wimpy Kid... ha ha ha... Asyik juga melihatnya.

Arabian Shot of a man in oriental costume.
Nigerian
Middle Eastern People

Sampai di giliranku berada di depan aku segera mengambil piring dan sendok. Segera wadah ku itu dipenuhi dengan nasi kari, sayuran, ayam gulai dan daging cincang. Aku juga dapat segelas soup kental. Dan pas mau kembali ke meja, diberi sepotong kue yang kukira pie, ternyata bukan. Kayaknya tu kue adalah kue khas dari TimTeng. Terbukti dari rasanya yang super-duper-kuper manis.... Udah dikasih gula, lalu ditaburi korma, terus ditambah madu plus sirup.... Wadooh, kalau orang yang menderita kencing manis makan ini, kujamin bakal step tiga hari tiga malam.. Wuehehehehehe......Wah, sudah komplit dan saatnya makan. Aku duduk di meja dimana kulihat ada wajah Asia, yaitu di dekat dua orang Malaysia yang duduk bersama dengan pria Lebanon yang tadi memberikan air minum kepadaku, Nader. Aku lupa dengan nama kedua orang pemuda Malaysia tadi. Maklum, short memory system sering mengalami reboot, Ha ha ha... Di depan ku kemudian juga duduk seorang pemuda keturunan Maroko yang lahirnya di Amerika ini. Namanya Gareth. Setelah bercerita dengannya, melalui tutur bahasanya yang halus dan santun, dia bilang bahwa dulunya dia adalah penganut agama kristen yang kemudian beralih memeluk agama Islam karena tidak bisa menerima konsep trinitas di dalam agama lamanya.. Hooo... Ternyata memang banyak juga yang sadar dengan ketimpangan konsep ketuhanan tersebut..

Kami makan sambil berdiskusi tentang berbagai hal... Sampai kemudian satu persatu orang-orang yang ada di sana membubarkan diri. Sebagian, terutama yang bapak-bapak, bertugas membersihkan meja dan mencuci piring. Aku yang belum tahu begitu banyak dengan kondisi tersebut, memilih pamit dan kembali pulang. Tentunya dengan perut kenyang dan senyum bahagia karena telah bertemu dengan umat Islam lain yang ada di daerah Kansas ini....

Alhamdulillah......

NB: gambar didapat dari internet, kecuali Foto Robyn yang memang disertai dalam website apatemen di KU

Kamis, 18 Agustus 2011

Kansas, 16 August 2011


It's just like a dream that I'm here.....

Kata-kata itu yang selalu terpikirkan setiap kali bangun tidur dan mendapati diriku sudah berada di Lawrence, Kansas ini... Walaupun desir angin dingin menerpa kulit masih terasa dingin, meski daun-daun maple yang berjatuhan kerap menerpa rambutku dan burung-burung sejenis gagak terbang rendah mangaok di atas kepala, aku tetap masih sulit percaya bahwa aku telah berada di negeri ini... Masih terngiang angan dan mimpi jaman kecil, ketika melihat siaran televisi yang menayangkan gambar kota-kota indah di luar negeri, bahwa aku sangat ingin untuk pergi ke tempat-tempat yang ada di layar kaca itu suatu hari... Dan hari itu adalah hari-hari yang sudah kujajaki semenjak turun dari pesawat Jum'at 12 Agustus lalu.... Alhamdulillah, kata-kata pujian yang kuucapkan berikutnya, setelah aku meyakinkan diri bahwa ini bukan khayalan.. Allah memang Maha Mengetahui dan Maha Mengabulkan apa yang dikehendaki oleh hamba-Nya... Aku tahu benar, bahwa apa yang dikatakan oleh Andrea Hirata, "bermimpilah, maka langit akan menggantungkan mimpi-mimpimu" (he he he, mungkin kutipan ini agak sedikit melenceng, tapi anggap aja itulah yang dikatakan oleh si Ikal itu).. Ini lah mimpi yang sejak lama kutiupkan ke dalam alam bawah sadarku, kubisikan di setiap tidurku dan lamat-lamat sering masuk ke setiap khayalanku...

Ha ha ha... Cukup lah berpuitis-puitis rianya... Hari ini, seperti biasa aku masih dirundung jam biologis yang salah, sehingga jam satu malam waktu lokal sudah terbangun.. Internet adalah pelarianku, karena hanya itu yang bisa diajak berinteraksi dengan teman-teman di tanah air yang masih mengalami siang hari... Ketika hampir sampai waktu sahur, aku beranjak untuk menyiapkan hidangan alakadarnya, yaitu memasak nasi dengan rice cooker yang ada di dapur Carl, lalu memasak air dengan water junk... Sedangkan untuk sambalnya, masih menggunakan ikan bilih dan rakik macho yang kubawa dari tanah air... Seperti biasa, untuk menambah vitamin dan serat, aku makan dua butir apel dan ditambah dengan jeruk.. Lumayan lah untuk memberi asupan tenaga untuk siangnya... Sialnya, sehabis sahur, aku justru tidak bisa tidur... Gelisah dan grasak grusuk dengan bermodalkan sleeping bag yang juga kubawa dari tanah air, akhirnya menjelang pukul enam, aku bisa memicingkan mata barang sejenak...

Sampai pukul sembilan kurang, aku baru terbangun, teringat akan appointment lain yang harus kutepati hari ini: health checking... Pukul 09.40 bertempat di Watkins Memorial Student Health Center... Aku tahu kalau orang-orang dari bidang kesehatan biasanya agak sedikit ketat, jadi aku harus siap-siap. Kembali mencari arsip-arsip yang perlu ditampilkan ke mereka, termasuk mengingat-ingat apa yang harus kukatakan nanti kalau mereka menanyakan riwayat kesehatanku.. Maklum lah, negara berkembang seperti Indonesia, dengan sistem pengarsipan yang masih amburadul, tempat yang paling aman untuk menyimpan yang namanya riwayat atas segala sesuatu adalah di otak kita... Dan payahnya, aku adalah tipe orang yang tidak bisa mengingat detil-detil kejadian harian dengan baik... Jadi, yah, que sera sera, whatever will be, yaaa, will be......

Persiapan sederhana kulakukan pagi itu, termasuk gosok gigi.. Takut kalau misalnya pas diperiksa nanti, gigi yang memang sudah gak baik dari sononya ini akan dapat tambahan nilai minus jika ada baunya.. Ha ha... Aku memang jarang berkunjung ke dokter gigi.. Hanya berapa kali, bisa dihitung dengan jari tangan.. Itu pun cuman untuk tindakan akhir dalam kamus dokter gigi: cabut gigi... Sekali lagi, biarlah begini adanya... Mudah-mudahan dokter yang melakukan check in akan sedikit merasa kasihan dengan diriku yang berasal dari negara dunia ketiga yang memang meletakkan urusan kesehatan sebagai urusan nomor kesekian, tentunya dengan urusan perut sebagai urusan nomor wahid. Dah, biarlah.. Jam sembilan lewat tiga delapan menit, aku berjalan ke Watkins Memorial yang jaraknya gak sampai seratus meteran dari rumah Carl..

Sesampai di sana, seorang wanita muda dengan baju all-blue menyambut dengan ramah dan menanyakan apa yang bisa dibantunya. Dengan segera dia mahfum bahwa aku adalah mahasiswa internasional. Dengan menyebutkan nama akhirku, dia bisa segera mencari diriku di dalam daftar appointment hari itu. Setelah checklist, dia menyuruhku duduk di bangku menunggu meja petugas pertama yang sedang ada tamunya.. Kupikir orang yang duduk di depan counter tersebut juga sedang melakukan prosedur health checking.. Tak berapa lama, meja itu kosong. Aku yang sudah menunggu dibalik batas antrian (pagi itu gak ada antrian, tapi tetap prosedur mengantri dilakukan di sana) segera menghampiri begitu dipanggil wanita yang ada di balik meja. Sedikit berbasa basi membuat suasana jadi cair. Dia dengan cekatan menanyakan nomor ID mahasiswa KU yang sudah kudapatkan. Begitu disebutkan, dia segera menginput ke komputer di depannya dan voila... Sejumput data-data pentingku dengan segera dia bacakan, termasuk lokasi apartment yang baru kuurus kemaren dan belum sempat kutengok... Kemudian dia mempersilakan aku untuk menandatangani tiga buah berkas yang terkait dengan prosedur perijinan screening Tubercolosis (TB) yang akan kulakukan hari itu.. Setelah itu ia memprint serangkap sticker identitasku dan memasukkannya bersamaan dengan berkas yang sudah ditandatangani tadi ke dalam sebuah map kertas coklat. 


Setelah itu dia menyuruh aku menemui wanita berbaju all-blue tadi yang nantinya akan mengantarkan aku menuju ke ruang pemeriksaan selanjutnya. Di ruang selanjutnya, yang berada di sayap selatan gedung itu, aku melihat beberapa pos yang dipandu oleh beberapa orang dokter yang duduk menghadap ke komputer masing-masing. Sedangkan beberapa orang yang akan diperiksa hari itu, duduk di barisan kursi yang memanjang menghadap ke meja datar. Di sana aku disambut oleh volunter dari ISSS (salah seorangnya kemaren kulihat waktu memberikan pengarahan tentang asuransi kesehatan di ruang crimson blue gedung yang sama), yang kemudian memberikan dua buah form untuk kuisi. Form tersebut sama dengan form yang kupunya di dalam paket orientasi yang dikirimkan oleh KU beberapa bulan sebelum aku berangkat. Setelah mengisi biodata, kemudian betul ternyata aku ditanya tentang riwayat kesehatanku.. Karena memang tidak banyak yang bisa kuingat tentang itu, jadinya catatan yang diberikan di dalam form tersebut adalah "unknown". Dan dalam dunia medis, jika diagnosa suatu kejadian dilandaskan pada fakta yang unknown, cara yang terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan "thorough" checkingh.. Yang artinya bisa jadi full-body checking... Oh my gosh..!! Artinya akan banyak bagian diriku yang akan diperiksa ini dan itunya?? Untungnya pertanyaan besar itu tak lama berlangsung. Setelah selesai dengan dua form tadi, aku dipanggil menghadap salah seorang dokter di meja pertama di ruang tersebut. Berdasarkan apa yang tertulis di dalam form, maka aku akan mendapatkan dua tes untuk memastikan tidak ada terkena apa yang mereka sebut dengan Measle-Mump-Rubella.. Jadi ini adalah bonus untuk riwayat kesehatan yang gak jelas itu, tentunya setelah screening untuk TB yang memang wajib untuk dilakukan.

Watkins Memorial Health Center

Dari meja satu, aku beralih ke meja dua.. Di sana prosedurnya hanya singkat, aku dicek kembali label namanya, apakah sudah sesuai atau tidak.. Kemudian wanita yang ada di sana dengan cekatan mengantarkan ku ke ruangan yang berada di belakang ruang aula tersebut. Di sana darahku akan diambil dan dimasukkan ke dalam beberapa ampel untuk pengujian Measle-Mump-Rubella serta screening TB. Penjelasan tentang penyakit ini aku gak begitu paham, tapi kesemuanya adalah penyakit yang bisa menjangkiti orang dalam jumlah massive, sehingga pemberian imunisasi untuk keempat macamnya bersifat mandatory alias wajib. Aku diserahkan kembali ke seorang wanita lain, akan mengambil darahku... Terus terang, walaupun sudah beberapa kali melakukan donor darah dahulunya, tapi tetap saja tiap kali tubuhku dimasukkan jarum, masih merasakan perasaan yang sangat tidak enak.. Wanita tersebut mengerti dengan apa yang kurasakan dan dengan ahli dia mangajak ku berkomunikasi, tanya ini itu, sambil mengambil sampel darah dari arteri yang ada di lengan kananku... Setelah jarum suntik masuk, empat ampel darahku diambil dengan lancar. Setelah menutupi bekas luka dengan plester, aku dipersilakan untuk keluar menemui seorang wanita berbaju hijau yang duduk di depan komputer untuk melakukan pengambilan data terakhir. Di sini untuk memastikan alamat tempat tinggalku. Mungkin untuk mengirimkan hasil checking darah dan hal-hal lain yang diperlukan. Di sana si wanita tersebut memberitahukan bahwa setelah dia, masih ada satu post terakhir yang terkait dengan health insurance. Di sini tidak terlalu lama aku duduk, karena pria kulit hitam dengan headset bluetooth di telinganya yang duduk di counter itu menjelaskan bahwa health insurance untuk grad student yang berdasarkan GRA akan otomatis termasuk ke dalam tagihan tuition nya... Alhamdulillah... Proses yang kalau di tanah air ini akan sangat tidak menyenangkan bagiku, ternyata selesai dalam waktu kurang dari setengah jam..

Akhirnya, aku bisa punya waktu untuk melihat-lihat calon apartemenku, McCollum Residence Hall. Tapi, alamak, ternyata jarak dari Watkins Memorial ke McCollum Residence Hall lumayan jauh kalau dipakai jalan kaki. Yalah, gak apa-apa, buat latihan. Dengan mempedomani peta yang ada di tangan ku serta dengan memperhatikan arah, aku bisa melihat bahwa lokasinya berada di sebelah barat rumah Carl. Jalan-jalan-jalan..... Aku melewati Kindergarten yang berada dekat dengan apartment untuk para grad students. Asyik juga melihat anak-anak bule yang imut-imut itu tengah asyik bermain-main di berbagai fasilitas permainan yang ada. Gak kebayang kalau anak-anak seperti itulah yang dulunya membuat Arnold Schwarzenegger kerepotan dalam film Kindergarten Cop...Ha ha.. McCollum sudah dekat.. Tinggal mencari pintu masukknya.. Ah, dengan mudah kudapatkan, karena adanya banyak mahasiswa baru yang lagi orientasi dan memakai baju kaos seragam..

McCollum Residence Hall

Aku masuk ke dalam, menemui gadis muda di front desk dan memberikan secarik kertas yang kudapatkan di Housing Department kemaren. Dia menunjukkan ke dua meja dengan kerta penunjuk berwarna biru. Di sana ada sepadang muda mudi yang bertindak sebagai penerima kertas-kertas tersebut. Saat kuberikan, yang cewek sedikit berkerut keningnya, karena melihat kolom MOVE di dalam form ku diisi dengan kata-kata OUT.. Dia menanyakan kepadaku apa artinya, kujawab tidak tahu karena orang di Housing Department yang membuatnya. Kemudian yang cowok memanggil supervisornya, gadis dengan tubuh double size.. yang dipanggil manggut-manggut melihat form ku dan kemudian menanyakan kapan aku ingin pindah ke sana.. Dia mengatakan, kemungkinan file ku belum ada di dalam daftar mereka, karena belum diproses di bagian mereka. Jadi dia memberikan dua pilihan, jika aku ingin pindah sebelum jumat, aku akan dikenakan fee. Kalau sesudah jumat, maka tidak ada fee nya... Ya sudah lah... Karena keinginan ku hanya untuk lihat-lihat, maka aku pilih pindah ke sana Jumat nanti..

Seperti yang kubilang tadi, perjalanan ke McCollum Residence adalah perjalanan yang cukup jauh kalau dengan jalan kaki. Gak heran kalau orang-orang di bagian kesehatan tadi mengatakan kalau apartemen yang itu dikategorikan sebagai out campus. Okelah, saatnya mencoba fasilitas transportasi umum yang ada di sini, yaitu KU Bus.. Aku duduk menunggu di dalam halte bus yang terbuat dari kaca.. Enak juga di sana, karena di samping terlindung, bisa secara transparan melihat ke lingkungan sekitar..
KU Bus Stop
Aku melihat jadwal kedatangan bus.. Ternyata bis datang sekali setengah jam. Tinggal beberapa menit ke jadwal yang berikutnya. Bis dengan nomor rute 11-Downtown.. Artinya bus ini akan melewati daerah perkotaan.. Aku sebenarnya tidak begitu kenal daerah downtown, tapi masa bodoh la... Yang penting bisa naik dulu, nanti kalau ada apa-apanya bisa bertanya pada orang. Tak lama, bis nya datang. Pengemudinya seorang pria gemuk kulit hitam. Aku menanyakan apakah aku bisa naik bus itu tanpa kartu mahasiswa, karena aku belum punya. Dia menjawab, tidak masalah. Akupun naik. Interior bus yang nyaman dan lapang dengan pengaturan yang serasi, membuatku betah duduk di dalamnya. Saat itu hanya ada beberapa orang di dalamnya. 
KU Bus

Bis melaju pelan. Pertama melewati lingkungan dalam kampus. Setelah melewati Kansas Union, bis berbelok ke arah downtown. Aku bisa melihat bangunan-bangunan tua dari batu, mulai dari perumahan penduduk setempat, gedung pengadilan, gedung pemerintahan, bank dan gedung kejaksaan. Pada gedung-gedung ini setidaknya ada satu patung atau monumen yang diletakkan di halaman rumahnya. Setelah melewati barisan perumahan penduduk yang padat, namun asri, bus kembali berbelok ke arah kampus. Ketika kembali melewati Kansas Union, aku turun di sana. Dari kejauhan dapat kulihat sepasang suami istri sedang mendorong kereta anaknya yang masih kecil. Si wanita mengenakan jilbab, sehingga dapat kupastikan dia dan suaminya adalah muslim. Aku menyapa mereka dan memperkenalkan diri. Pasangan itu berasal dari Arab Saudi dan si wanita yang sedang menuntut ilmu. Aku menanyakan kepada mereka kemana aku bisa mencari informasi tentang jadwal shalat, jadwal puasa dan berbuka. Tampaknya mereka cukup sulit memahamiku, karena kemampuan berbahasa Inggris mereka sangat terbatas. Untung saja yang wanita mempunyai seorang teman yang kemudian dihubunginya dan datang menuju ke kami. Dari dia, aku mengetahui bahwa jadwal berbuka puasa adalah jam 9. Dan pada jam itulah umat muslim ramai berkumpul di Islamic Center yang ada di dekat Missouri Street tempatku tinggal sekarang. Haaah... Leganya, saat tahu bahwa aku nanti malam akan dapat bertemu dengan banyak umat muslim lainnya yang ada di Kansas ini. Bahkan termasuk orang Indonesia juga. Setelah mengucapkan terima kasih kepada ketiga orang tersebut, aku berlalu.

Aku melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Pengen awalnya adalah menuju ke arah mart yang ada di perbatasan kampus dengan downtown, tapi ternyata aku agak "tersesat" dan nyasar ke daerah perumahan seputaran kampus yang agak asing. Di sini masing-masing jalan diberi nama sesuai dengan nama negara bagian yang ada di Amerika. Di sekitar jalan Tennessee, aku melihat segerombolan gadis-gadis muda berada di depan rumah yang kayaknya asrama. Di depan mereka beberapa gadis muda lain yang lebih senior berdiri agak angkuh. Aku berpikir, jangan-jangan ini bentuk fraternity seperti yang digambarkan dalam film Poison Ivy atau Brotherhood itu.. Aku sempat melihat lama ke arah mereka. Beberapa orang gadis senior balas melihat dengan garang ke arah ku.. Wiih....

Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan blok demi blok sambil mengamati kehidupan orang-orang di sini. Termasuk juga infrastruktur nya. Satu hal yang menarik perhatian adalah tiang listrik di sini yang dibuat dari batang pohon asli. Katanya dari batang pohon oak atau maple yang sudah diketam licin dan membentuk tiang lurus. Tujuannya memakai bahan ini sebagai tiang listrik adalah agar tidak mengurangi nilai estetika lingkungan tempat mereka tinggal, jika dibandingkan dengan menggunakan bahan besi atau baja sebagai tiang listrik. Waah, kembali aku berdecak...

Akhirnya, perjalanan yang cukup panjang itupun berakhir dengan sampainya aku di Maine Street, satu blok lagi dari Missouri Street. Begitu sampai di rumah, kunci pintu segera kubuka dan masuk ke dalam rumah yang berhawa sejuk tersebut. Sebenarnya ini bukan rumah, tapi lebih spesifiknya disebut dengan duplex... Nanti lah, aku akan bercerita tentang berbagai fasilitas lain yang ada di sini, termasuk duplex ini. Sekarang aku cukup lelah, harus sedikit istirahat dulu untuk bisa pergi berbuka di Islamic Center pukul setengah sembilan malam nanti. Juga harus memikirkan bagaimana melalui Test Bahasa Inggris besok yang akan dilakukan di ruang 110 Budig Hall. Mendengar nama ini sedikit membuat ku ketawa. Coba kalau G nya digandi dengan K, pasti udah bisa dibuat kepanjangannya: BUDEK DIKIT.. Hi hi hi....
Budig Hall

Oke lah.. Cukup capek juga nulisnya... Mudah-mudahan besok aku dapat pengalaman baru lagi yang bisa ditulis di sini.. Hari-hari panjang penuh tantangan...


Ciao...............

NB: gambar-gambar yang ditampilkan didapatkan dari internet