Jumat, 02 September 2011

Life Summary... So far...


Tinggal di suatu tempat merupakan suatu proses adaptasi bertahap dengan segala situasi yang ada di tempat tersebut...
Tinggal di Amerika, dengan kebudayaannya yang sangat beragam, tetapi mengutamakan kebebasan individu dalam melakukan berbagai hal yang diinginkannya, telah menciptakan berbagai hal yang sangat menarik untuk disimak dan tentunya sangat berbeda dengan apa yang ditemukan di negaraku sendiri, Indonesia tercinta..

Yang pertama mau kuceritakan di sini adalah kebiasaan bertato pada komunitas masyarakat Amerika ini. Sejak mulai menjejakan kaki di Bandara International Houston, sudah kulihat kebanyakan dari para bule tersebut mentatoo berbagai bagian tubuh mereka dengan aneka macam motif tato. Setelah sampai di Lawrence, Kansas dan tinggal beberapa lama di sana, juga kutemukan bahwa bukan para pemuda atau pemudinya yang bertato, bahkan para nenek-neke pun tidak ketinggalan untuk menato dirinya. Tentunya wanita pertama yang kulihat bertato adalah Kate Ingenloff, yang telah menjemputku dari Bandara Kansas City International Airport dan mengantarku sampai ke Lawrence ini. Nah, terdapat perbedaan antara tato pada cowok dengan yang cewek, walaupun pada saat tertentu pernah juga kulihat sepasang cowok-cewek yang merajah seluruh tubuhnya dengan motif-motif aneka rupa dan warna. Hal itu tentu saja mudah diamati di musim panas ini, karena seperti yang sudah kugambarkan pada note sebelumya, para bule dan orang-orang yang sudah tinggal lama di sini pada umumnya mengenakan pakaian serba terbuka di musim ini. Perbedaan yang kumaksud tadi adalah, kalau pada pria, tentu saja mereka mengikuti insting maskulinitas mereka, sehingga tato bisa ditemukan pada lengan, baik atas atau bawah, pada dada, permukaan atas kaki atau di pundak. Itu semua kan bagian-bagian yang menonjolkan otot kelelakiannya, walaupun tentu masih banyak lagi bagian yang bisa ditato, sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Sedangkan yang cewek juga gak kalah dengan menggunakan tato pada bagian-bagian yang menurut mereka akan tampak seksi. Misalnya, di bagian tumit, betis, di pundak, dekat (ehem) PYDR.... tentuin sendiri kepanjangannya, juga di dekat pusar atau di punggung bagian bawahm nyaris berbatasan dengan bokong. Nah, yang parahnya, para cewek yang membuat tatoo di bagian yang sensitif ini cenderung suka pamer, sehingga, yaaaahh... Diumbar deh ke sana kemari... Gak mahasiswa, gak orang luar non kampus, gak para pekerja kasar, pekerja kantoran, staf administrasi bahkan ke petugas perpustakaanpun dan nenek-nenek yang besok hari mau modar pun make tato di tubuhnya... Amit-amit nih negara....


Maskulin
Feminin.....
Nah lo...

Kemudian kebiasaan menggunakan kendaraan tak bermesin, yang paling umum di sini maksudnya adalah sepeda.. Beberapa menggunakan otopet, ada juga yang ahli menggunakan skateboard, seperti salah seorang teman se labor ku, Jesse.. Dia ini di samping jago main skateboard, juga punya tato. Kalau aku sih gak masalah dengan nya, karena anaknya pintar sih.. Di dalam kelas, dia selalu aktif berdikusi dengan dosen yang mengajar.


Memang kendaraan pribadi seperti ceritaku kemaren banyak dipunyai masing-masing mahasiswa, terutama yang sophomore (mahasiswa tahun kedua) ke atas, tapi tak jarang juga banyak yang lebih memilih sepeda sebagai alternatif kendaraan mereka. Dan asyiknya, di masing-masing gedung, disediakan tempat parkir khusus untuk sepeda, termasuk tempat untuk menegakan dan memasang gemboknya. Ohya, supervisor ku, Rob Moyle juga memakai sepeda. Pernah kulihat sebuah sepeda balap hitam dan helm nya mejeng di luar ruangannya. Tak lupa juga Kristalka, si rambut awut-awutan yang jenius dari lab geografi dan pelaontologi, pernah ketemu denganku di toko sepeda, tempat aku menitipkan perbaikan sepeda yang kubeli dari Bob Furer (ingat ceritaku tentang membeli sepeda melalui situs Craiglist). Walaupun sampai sekarang belum ada kabar beritanya bagaimana sepeda yang kutitipkan di bengkel itu... Udah beres atau belumnya masih menunggu kabar dari tukang bengkel.... Ngaret juga dia, karena dulu katanya cuman seminggu, nih udah hampir dua mingguan belum ada juga kabar beritanya... Hhhhh....


Cycling through the way...

Kemudian kebiasaan berikutnya yang agak sedikit membuatku jijay menuliskannya adalah yang terkait dengan masalah restroom di lantai 4 tempat ku tinggal sekarang di MCCollum Residence Hall. Kupikir karena aku tinggal di antara pemuda-pemuda harapan bangsa (Amerika), yang pastinya sudah mempunyai intelektual tingkat akut, yang pasti akan sensitif dengan segala bentuk hal yang menimbulkan kejijayan masyarakat umum, ternyata masih kutemukan juga yang tidak melakukan flush (menyiram) WC nya sehabis buang air besar atau kecil.. Kadang-kadang, aku terpaksa menekan tuas flush di masing-masing jamban itu, karena kan gak enak juga kan, kita udah ngeliat emas 24 karat tersebut ngapung-ngapung, sementara kita mau boker? Toilet di restroom masing-masing lantai dan side (south, east dan west) merupakan ruangan yang berisikan 3 baris toilet yang dipisahkan oleh partisi, kemudian ada juga dua laterine buat pipis sambil berdiri (gak tau kalau di toilet yang cewek gimana), empat kamar mandi dengan shower dan ditutupi cuman dengan kain kerai putih, serta enam wastafel menghadap cermin, yang dibuat dalam dua barisan yang terpisah dinding. Di sini awalnya aku sempat kagok juga, gimana mau mandinya, gimana mau bokernya dan terutama-cebokannya. Kemudian, satu solusi kutemukan dengan membawa baskom kecil untuk menampung air dan setelah selesai menggunakan tisu gulung (yang tingkat kebersihannya sangat kuragukan), disambung dengan cebokan menggunakan air. Lumayan lah, walaupun belum terbiasa menggunakan WC duduk ini, paling tidak rasa aman dan nyaman sebagai syarat utama selesai dari toilet bisa tercapai. Kembali ke kasus WC dan laterine yang tidak di flush tadi, aku masih kepikiran, siapa sih di antara yang tinggal di lantai 4 south ini yang begitu malasnya nekan tuas flush itu?? Apakah para bule, para mahasiswa yang dari Jepang atau China? Para kulit hitam? Atau seorang cowok Perancis yang tinggal beberapa pintu lewat dari pintu restroom tadi? Pokoknya aku gak mau tau lah.... Urus urusan masing-masing.. Yang penting aku selalu flush kalau udah selesai.. Biar kampungan, tapi yang penting bersih deh dalam urusan yang satu itu..

Restroom Ideal...

Cerita selanjutnya agak menyimpang dari masalah kebiasaan ini. Aku mau cerita tentang hidup di asrama McCollum ini. Aku menempati kamar 462, kamar di lantai empat, berada pada sisi selatan dari tiga sayap yang dipunyai asrama ini. Kayaknya gak ada lagi mahasiswa grad yang tinggal di tempat ini karena semuanya rata-rata adalah mahasiswa undergrad (S1) dan tentunya dalam masalah pergaulan masih agak urakan lah. Tapi aku gak masalah juga, karena mereka masih dalam batas kewajaran sikapnya, dan yang penting menghormati kebebasan dan privasi orang lain. Teman sekamarku orang China, yang mau mengambil S2 di bidang komputer, namanya LOu Chang.. Orangnya agak rada-rada gemuk, berambut cepak. Bahasa Inggrisnya masih semi intermediet lah, jadi kadang-kadang ada ucapanku yang kurang dimengertinya.. Tidak heran karena sekarang dia masih mengambil intensive course selama fall ini untuk memantapkan bahasa Inggrisnya sebelum mulai perkuliahan di semester depan. Itupun tergantung dengan lulus atau tidaknya dia nanti dari tes berikutnya di akhir semester... Lou Chang hanyalah satu dari sekian banyak pemuda etnis China yang kuliah di sini. Mereka rata-rata kuliah karena memang mempunyai ortu yang tajir bin kaya... Buktinya saja, si Lou Chang ini baru beberapa minggu udah punya kompi lengkap, HP, beli banyak sepatu, beli buku lewat amazon.com, juga beli raket tenis yang dipakainya untuk main tenis di lapangan di luar kampus... Yah, biarin aja. Gak perlu sirik. Karena aku juga punya standard hidup yang beda dari dia. Gak perlu tinggi-tinggi banget, tapi yang penting bisa bertahan hidup di saat-saat transisi ini..


Kemudian lanjut cerita tentang McCollum ini. gedung ini berlantai sepuluh, dengan lantai dua sebagai lantai yang pertama kali kita masuki dari pintu utama. Ini juga merupakan ciri dari gedung-gedung di KU ini, mereka cenderung mulai dari lantai dua ke atas, saat kita masuk dari pintu utamanya. Itu karena kompleks ini dibangun di kawasan perbukitan. The Natural History Museum saja kalau dimasuki dari gerbang utamanya, udah langsung sampai ke lantai 4. Sementara tiga lantai lainnya terletak di bawah tanah. Alasan lainnya selain kontur perbukitan ini, yaitu untuk kepentingan perlindungan. Terutama dari bencana alam yang ditimbulkan oleh angin. Kansas sering dilanda oleh topan dan badai, serta beberapa kali tornado.

Hurricane
Tornado

Nah, yang di McCollum, lantai satunya yang berada di basement. Di setting mirip dengan lobby di lantai duanya, tapi sedikit lebih sempit dan lebih sepi, karena gak banyak orang yang mau kongkow-kongkow di sini. Di samping itu, di lantai basement ini terdapat ruangan khusus untuk laundry.. AKu baru sekali menggunakan ruangan tersebut, karena biasanya kalau makai baju agak dihemat... Artinya, setelah dipakai, langsung digantung di hanger, kemudian ganti makai baju yang lain. Setelah baju yang pertama didiamkan dua tiga hari, dan diasumsikan sudah "dingin" kemudian dipakai lagi. Setelah itu diulangi proses yang sama, sehingga baru sekitar dua mingguan, baru terkumpul cukup banyak cuciannya. Di samping itu, nge-laundry di tempat ini juga bayar. Kita gak bayar ke orang yang jaga laundry, tapi langsung ke mesinnya, karena sudah dilengkapi dengan tempat insert koin. Satu kali nyuci biayanya $1.25. Biasanya lama mencucinya 27 menit, bisa kita atur dengan suhu berapa dan jenis kainnya apa. Setelah masukin koin quarter dollar sebanyak 5 buah, lalu tekan tombol start dan biarkan saja sampai selesai. Di sini yang namanya deterjen gak ada. Nyuci pakai sabun yang bentuknya cair dan berada dalam botol atau kontainer yang pake pegangan. Sekali nyuci bisa make dua atau tiga kali tutup botol yang langsung jadi takarannya. Gak tau juga dengan busanya, apakah banyak atau tidak, karena kayaknya gak begitu lengket dan gak menimbulkan busa saat mencuci.

Laundry Room

Nanti setelah selesai, mesinnya akan berhenti sendiri. Kita harus melanjutkan proses nge-laundry ini dengan mengeringkannya di mesin pengering. Gak ada ceritanya pake jemuran di sini. Bayangkan berapa luas lahan yang harus disediakan pihak universitas untuk menampung jemuran 900 orang mahasiswa McCollum ini? Belum lagi kalau mahasiswa di dorm yang lain juga minta hal yang sama.. Norak kan, kampus modern dan mentereng, asrama mahasiswanya dipenuhi jemuran (gak terhitung jemuran "antik" ha ha ha...

Jemuran Super Antik...

Selanjutnya, masih tentang McCollum ini juga, lantai dengan nomor lantai ganjil diperuntukkan untuk cewek, sedangkan yang bernomor genap, diperuntukkan untuk yang cowok. Sama halnya dengan lantai yang kutempati sekarang. Lantai nomor 4 kan? Masing-masing lantai ditugaskan beberapa orang sophomre sebagai RA (Room Assistant). Untuk lantai empat ini, ditugaskan tiga orang mahasiswa yang semuanya keturunan. Yang pertama seorang gadis keturunan TimTeng yang wajahnya mirip dengan Salma Hayek, tapi ketusnya mirip-mirip dengan Mpok Atik.. Terus ada dua orang pemuda, satu keturunan Cuba, agak gemuk dan satu orang lagi kulit hitam yang pengen jadi rapper.. Mereka ini yang pada hari-hari awal kedatanganku ke McCollum ini yang menjadi sumber informasi tentang lantai yang kutempati ini. Masing-masing sayap gedung di lantai ini dilengkapi dengan satu ruang restroom, dengan detail seperti yang kuceritakan tadi. Nah, ruanganku yang bernomor 462 ini terletak persis di sebelah kanan setelah pintu masuk ke sayap selatan gedung ini. Ruangannya dilengkapi dengan dua kasur dengan tempat tidur, dua meja, dua kursi, satu lemari bofet, dua closet tempat meletakkan baju dan satu outlet untuk sambungan internet. Sampai saat ini aku masih bermasalah dengan kenop pintu ku.. Penah satu kali ketika akan pergi sebentar ke restroom, aku meninggalkan kunci di dalam kamar begitu saja. Ternyata, setelah ditutupkan, pintu kamar tersebut mengunci dengan otomatis. Terpaksa sehabis balik dari restroom, aku harus turun dua lantai untuk meminta kunci cadangan ke front desk, pas saat bertemu dengan Salma hayek gadungan yang super ketus tadi... ha ha ha.. Biarin lah, yang penting kunci dapat. Saat kuberitahu tentang hal ini kepada Lou, dia hanya ketawa ketiwi saja.. Ternyata dia sudah mengalami juga hal tersebut dan juga sempat meminta kunci cadangan ke front desk di lantai 2 tadi. Akhir, sampai saat ini, walaupun cuma sebentar keluar kamar, aku tetap membawa kunci kamarku. Dan juga baru sekarang aku menyadari fenomena dari warga McCollum ini: mereka selalu mengalungkan kunci kamarnya di leher. Ternyata eh ternyata, pintu yang mengunci sendiri tadi merupakan kasus umum di sini..


Selaku fasilitas yang menampung hajat hidup orang banyak, McCollum gak punya ruang makan khusus layaknya sebuah asrama. Di sini hanya tersedia tempat membeli minuman dan makanan ringan otomatis yang harga makannya paling tinggi mencapai $1.25. Sedangkan kalau mau makan yang agak berat dan gak bayar (menggunakan kartu ID mahasiswa), berada di Lewis Hall, yang jaraknya sekitar 500 meter dari McCollum. Di sana ada yang namanya Mrs. E's Dining Hall, yang dikhususkan untuk cafetaria bagi semua mahasiswa dorm yang berada di Daisy Hills. Aku juga sebenarnya baru tadi siang mencoba makan di sana..

Ruangan Mrs. E's ini cukup besar, dengan beberapa block untuk tempat mengambil makanan, sehingga jika mahasiswa lagi banyak-banyaknya datang, mereka akan bisa ditampung dengan baik, tanpa bikin antrian yang terlampau panjang. Kemudian dining hall nya juga sangat luas dengan pemandangan yang bagus menghadap ke landscape main campus KU yang sangat indah, terutama kalau sudah sore hari, karena sinar matahari tepat masuk dari jendela-jendela kaca di sepanjang pinggiran dining room ini... Ternyata memang enak makan di sini, karena semua jenis makanan yang bergizi tinggi dan higienis ada di sana... wah, bisa untuk menggemukan body dong... ha ha.. Mrs. E's ini bukanya dari jam 7 pagi sampai dengan janm 7.30 malam, dengan tidak ada interval waktu istirahat. Waktu makan siang tadi, yang kucoba dari beberapa menu yang tersedia adalah makanan yang non daging. Karena walaupun menggunakan daging sapi, aku takutnya daging tersebut tidak halal karena hewannya tidak disembelih dengan cara yang halal. Jadi, menu yang kupilih adalah fries ring, sweet corn dan pasta sebagai makanan utama, kemudian dilengkapi dengan salad sayuran, choco chip flake dengan susu coklat plus susu coklatnya segelas... Wuih, pas kenyangnya.. Tidak telampau gembung dan tidak pula kurang.. Jadi sampai malam ini masih terasa kenyangnya. Sehingga rencana untuk datang lagi ke Mrs. E's untuk makan malam, tidak jadi dilakukan... He he he....

Mrs E's indoor view...

Ha ha ha... Mudah-mudahan hidup di sini makin mudah dengan banyaknya fasilitas yang bisa dimanfaatkan.. dan tentunya kuliah ku juga bisa berjalan dengan lancar... Cerita tentang teman-teman Indonesia yang baru saja kudapatkan dalam beberapa hari belakangan ini nanti saja kubuat lagi.. Sudah ngantuk...

.............................................................

Untitled...


Rasanya sudah sangat lama sekali tidak menuliskan note lagi... Sudah seminggu lebih, dan sudah sekian banyak hal menumpuk di kepala, menunggu buat ditumpahkan dan dibeberkan, biar terasa lega sedikit beban yang ditanggung pria perantauan ini.. Darimana baiknya menuliskannya... Dibagi saja jadi beberapa bagian yah?? He he he...

Flawless?? It's mostly flaw....
Amerika memang negara maju. Sangat maju sekali, sampai-sampai aku mengira dalam setiap bidang kehidupannya, semua fasilitas yang diberikan untuk itu adalah fasilitas kelas satu.. Memang, di the University of Kansas ini semua yang bisa diimpikan seorang mahasiswa dapat digapai dengan mudah. Mulai dari sarana pendidikan yang benar-benar lengkap, gedung kuliah yang besar, sarana audio-visual yang sangat mendukung, tenaga pengajar yang berpengalaman, staf bagian administrasi yang sangat berdedikasi, serta maintenance dan teknisi yang sangat terlatih memberikan kami para mahasiswa kenyamanan tingkat tinggi. Tapi kalau dilihat-lihat lagi, secara mendalam--dan mungkin karena aku sudah beberapa minggu  berada di sini, tetap saja terdapat kekurangan dalam hal-hal tertentu.... Beberapanya mungkin bisa nih diambil jadi pelajaran kalau-kalau suatu waktu nanti Indonesia sudah menjadi negara maju juga....

Yang pertama sekali, aku kecewa nih, dengan sistem pertoiletannya..

kalau diuraikan begini nih.. Kemaren aku baca tentang maintenance di KU ini, katanya menghabiskan sekitar 200.000 lebih rol kertas tissue gulung buat ganti "cebokan" para pemakai toilet. Tentang yang ini, aku mikirnya begini (ini sambil nongkrong di atas WC duduknya toilet di McCollum). Jumlah gulungan tisu yang kusebutkan di atas tadi merupakan jumlah minimal. Terutama karena mahasiswa pendatang sepertiku, yang sampai sekarang masih merasa risih kalau cebok bukan dengan air, menggunakan lebih banyak tisu untuk hal yang sedikit private tersebut. Coba bayangkan, kalau semua negara yang penduduknya mayoritas penduduknya cebokan dengan air mengirimkan penduduknya untuk tinggal di Amerika ini, maka dengan bergantinya sistem ini, mereka akan menggunakan tisue satu setengah kali lebih banyak dari para native Amerika di sini. Dan sangat bisa jadi, peningkatan pemakaian ini akan meningkatkan penebangan pohon yang menjadi bahan dasar pembuatan kertas tisu tadi.. Emang sih, mereka melakukannya dengan sistem yang environmental friendly dan mendapatkan sertifikasi green label... Tapi bagiku, sekali menebang, tetaplah menebang.. Dan sekali kehilangan satu pohon, sangat lamaaa sekali menggantinya... Kenapa sih, di Amrik ini gak pake WC jongkok aja.. Kenapa gak pake air aja buat cebokan? Air kan bisa di-recycle lagi.... Hhhhhhhh.....

Daripada yang ini.....
Mending yang ini.....

Terus yang berikutnya, pemakaian kendaraan. Sekali lagi, Amrik negara yang sangat maju dengan income per capita rata-rata penduduknya mencapai lebih dari US$1500... Jadi wajar kalau semua keluarga paling tidak punya satu mobil. Nah, ini yang jadi bahan pemikiranku (kali ini mikirnya gak nyambi di atas jamban dudukan tadi lagi lho). Gini uraiannya. Di sini, angka yang kubilang tadi masih dalam jumlah yang terkecil, yaitu satu keluarga satu mobil. Padahal dalam kenyataannhya, hampir satu orang satu mobil. nah, gak heran kalau di parkiran McCollum ini dan juga di parkiran dorm yang lain, populasi mobil yang mangkal di sana hampir mencapai lebih dari setengah penghuni masing-masing dorm. Ini kan gak efektif dalam segi penggunaan sumber daya alam yang bernama minyak bumi? Padahal kan kita sudah sama-sama tahu kalau Minyak dan Gas adalah sumber daya alam yang tidak bisa terbaharukan... Kalau habis ya habis.. Di sini, kayaknya ada semacam trend di antara kawula muda, kalau udah mencapai usian akil baligh yang dipercaya berada pada rentang usian 17 tahun, mereka merasa kudu untuk punya kendaraan yang beroda empat tadi (bemo sama bajaj apalagi becak, gak masuk dalam hitungan yaa...). Nah, yang ditakutkan bukan banyaknya mobil yang berkeliaran di jalan. Tapi sumber tenaga untuk menghidupkan mobil-mobil tadi yang membuat aku jadi kepikiran. Bukannya itu mempercepat habisnya minyak bumi? Para ahli pun sependapat, bahwa pencarian tenaga alternatif untuk pengganti minyak bumi masih jauh dari memadai, sehingga ketergantungan akan sumber daya alam itu masih tak terelakkan? Jadi, dengan lantang (walau dalam hati) aku teriak: "berlakukanlah three in one lagiiiiiii hooooooooiiiiii...."


Kira-kira kedengaran gak ya sama orang-orang.........???


Kemudian, yang terakhir untuk dibahas di bagian ini, tentunya adalah masalah krisis moral. Tentu saja, aku memandang semua yang ada di sini dari kacamata orang Timur yang dihadapkan dengan culture shocking yang demikian dahsyat. Aku datang ke KU ini tepat dengan musim panas, dimana suhu terpanas mencapai 114 derajat Fahrenheit atau kalau dikalibrasikan ke Celcius, sekitar 40an derajat gitu... Wuiih, jauh lebih anget dibandingkan di Padang yang paling tinggi tercatat sekitaran 30an derajat.. Nah, wajar dong, para bule di sini yang gak doyan gerah gitu jadi "brubah!!" Yang namanya "BUPATI" sama "SEKWILDA" bukan barang aneh lagi.. Aku jadi mikir, apakah aku dapat dosa ya, karena emang kemana mata memandang, tertumbuknya yang emang selalu ke situ itu tu... Kadang dapat yang enak diliat (he he he... tau lah artinya), kadang keliatan yang bener-bener bikin sembelit ku kambuh: gendut, selulit di mana-mana, item koreng lutung mutung (ini istilah baru) untuk yang negro atau kulit putih pucat bercak-bercak, dan kedodoran dimana-mana.. Udah dapat dosa, eh yang diliatin juga gak enak chuy! Saban beginian, aku selalu berdoa, cepat lah datang musim dingin, biar pada rapet semua tuh pakaian... Coba aja keluar dengan style begituan di musim dingin... Bisa-bisa beku tuh "dagangan"... He he he....



Udah ah, cukup bicara tentang yang jelek-jelek... Sekarang tentang diriku lagi...

Dalam beberapa hari ini, yang notabene mendekati hari Lebaran Ied, sudah cukup bisa adaptasi dengan lingkungan kasar di Kansas ini. Kasar secara iklim maksudnya. Kalau orang-orangnya masih terhitung ramah untuk kawasan barat ini. Aku perlu sharing juga pengalaman ini biar kalau-kalau ada teman-teman lain yang kebetulan dapat kesempatan serupa, bisa memanfaatkan pengalaman ini dan mendapatkan hal yang lebih baik.

Kemudian aku juga sudah ketemu dengan pembimbingku yang lainnya, yaitu Dr. Andrew Townsend Peterson. Dia telah kembali dari perjalanan koleksi lapangannya yang di Mongol. Dan di ruangannya yang berada di sudut Barat lantai tujuh the Natural History Museum itulah aku bertemu untuk kedua kalinya dengan professor yang ramah dan baik hati itu dua hari yang lalu. Pertemuan kami yang pertama kali adalah tahun 2010 lalu, saat sama-sama hadir di ATBC Bali. Dia saat itu yang duluan menyapaku dan kemudian mengajak berbincang-bincang serta dengan sangat positif mendorongku untuk kembali apply ke KU. Dan keramahan itu juga yang kembali diperlihatkannya saat aku menemuinya di siang hari itu. Ruangannya yang tak luas itu dipenuhi dengan buku-buku, catatan lapangan, peralatan lapangan serta berbagai manuskrip ilmiah. Gema vokal opera yang mendayu-dayu kadang menyentak mengalun di ruangannya. Aku duduk di kursi di seberang mejanya, menunggunya yang masih sibuk dengan notebook nya, sementara di depannya terdapat komputer dengan layar menumpuk sebanyak delapan buah, persis ruang monitoring keamanan.

Say hello adalah hal pertama dalam agendaku dengan pembimbingku ini. Kemudian dia menanyakan bagaimana keadaanku selama beberapa minggu berada di Kansas ini. Saat tahu aku tinggal di McCollum, apalagi saat mengetahui aku sudah menikah, jadi segera merekomendasikan aku untuk mengurus pengajuan aplikasi ke Stouffer Place Apartment serta mengurus perubahan status di I-20 yang nanti diperlukan untuk membuat visa buat spouse. Kemudian kami membincangkan tentang masalah GRA ku yang terkait dengan pengurusan Social Security Number ku. Town menjelaskan dengan singkat bahwa dalam GRA nanti, kerja utamaku adalah mengatur database museum dan me-link-kannya dengan database dari lokasi-lokasi ilmiah lain seperti Museum Natural History yang ada di Universitas lain dan juga di Smithsonian... Wiih, aku jadi kepikiran bisa gak ya menyelesaikan tugas itu? Termasuk juga nanti adalah meng-entry database burung-burung Asia Tenggara di mana Indonesia menjadi bagian darinya. Setelahitu Town mengirim email ke Heather Campbell yang ada di bagian accounting Museum untuk menanyakan masalah tersebut. Sambil menunggu balasan Heather, kami menuju ke ruangan Rob, pembimbingku yang lainnya. Dia mengajak Rob untuk diskusi tentang perkuliahanku. Rob kalau tidak di lapangan, memang selalu berada di ruangannya, sibuk dengan entry data.

Di sini kami ngomong panjang lebar tentang perkuliahanku, termasuk tentang garis besar apa yang harus kulakukan dalam lima tahun ke depan nanti (itu kalau tahun 2012 gak jadi kiamat lho). Kasarnya, dalam satu sampai dua tahun pertama, aku hanya harus menyelesaikan kewajiban perkuliahan ku dengan baik sambil belajar banyak hal di museum, seperti masalah entry data tadi dan cara membuat spesimen yang baik. Di sini standarnya, aku harus mengerjakan di bawah supervisi seseorang yang berpengalaman dengan spesimen sebanyak 50 individu burung terlebih dahulu sampai menjadi spesimen yang layak simpan, baru kemudian bisa dianggap agak mumpuni untuk melakukan pembuatan spesimen secara mandiri. Termasuk untuk kemudian juga terjun ke lapangan melakukan pekerjaan koleksi. Dan lapangan yang dimaksud di sini bukan pergi ke suatu lokasi yang ada di Amerika atau kembali ke Indonesia dan melakukan rutinitas lapangan seperti yang biasanya kulakukan sebelum kuliah di KU ini. Tapi ke lapangan yang lebih internasional lagi. Bisa jadi ke Amerika Latin atau bahkan ke Afrika. Subhanallah, aku benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang pernah kuimpikan di waktu kecil dulu untuk melihat tempat-tempat indah yang kusaksikan di layar kaca suatu saat nanti akan menjadi kenyataan.

Lebih lanjut tentang kuliah, nanti di tahun ketiga baru lah aku akan lebih serius untuk mengolah apa yang sudah kupelajari dan mewujudkannya menjadi sebuah proposal kerja yang paling banyak mencapai 10 halaman dan harus bisa  menggambarkan apa yang hendak aku kerjakan. Proposal ini nanti akan dipertahankan di depan panelis penguji yang terdiri dari 5 orang profesor, empat di antaranya berasal dari EEB sendiri. Waduuuuuh, lima orang profesor nanti akan kuhadapi....?? Aku deg-degan juga mendengar hal ini. Bisa gak yaaa.... Itu yang kubisikan di dalam hati. Mudah-mudahan saja lancar semuanya nanti. Jika berhasil melewati tahapan proposal tadi, maka aku baru berhak menggalang status PhD Candidate, dari yang semulanya sekarang PhD Aspirant. Setelah itu, melakukan penelitian, mengolah hasil, mempresentasikannya dalam berbagai seminar, membuat artikel di jurnal ilmiah, kemudian menulis disertasi, melakukan sidang beberapa kali dan baru nantinya berhak menyandang gelar PhD... (InsyaAllah)... Dalam perjalanan itu nanti, aku akan melewati beberapa status beasiswa, antara lain GRA yang sekarang kupakai, kemudian ada kemungkinan untuk CA (curator assistantship), dan nantinya GTA (Graduate Teaching Assistantship) alias mengajar mahasiswa di EEB yang tingkatannya lebih rendah, seperti mahasiswa Bachelor dan Master degree. Waduh biyuuuuung...... Bisa gak yaaaa...??

Setelah selesai diskusi, aku dan Town kembali ke ruangannya. Ternyata Heather sudah membalas emailnya dan mengatakan bahwa ada beberapa dokumen yang harus kuurus secepatnya sebelum GRA ku bisa dicairkan. Termasuk di dalamnya adalah Social Security Number tadi. Cuman sayangnya, pas aku mau menyusul Heather ke ruangannya, dianya bilang di dalam pesannya bahwa dia keluar jam 2.40 untuk masuk ke kelas tertentu. Kayaknya, di samping nyambi jadi akunting di Museum, dia juga ngambil kuliah.Tapi masih mending lah. Paling tidak dia tahu bahwa aku adalah salah seorang mahasiswa grad yang akan mengurus sesuatu kepadanya.

Oke, aku pamit ke Town dan bilang akan mengurus hal selanjutnya yang kuanggap vital: mengurus rekening bank. Aku akhirnya memutuskan untuk membuka rekening di Commerce Bank yang ada cabangnya di Kansas Union dengan pertimbangan supaya kalau mau ngambil uang, tempatnya dekat. Lokasinya juga pas dan berada di pusat keramaian Kansas Union ini. Kalau dianalogikan dengan Unand, Kansas Union ini sama dengan Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Di sini berbagai aktifitas mahasiswa plus dengan tenaga akademik nya menyatu padu, mulai dari pentas seni, kegiatan amal, pemutaran film, penggalangan dana dan sebagainya. Jadi pas banget kalau aku pilih bank ini. Dan lebih enaknya lagi, kita sebagai mahasiswa bisa membuka rekening dengan dana $0.... tentunya asala kita mempunyai kartu mahasiswa...Aku yang sudah mempunyai kartu KU ID tentu saja eligible untuk mendaftar. Si gadis berlogat selatan yang berdiri di meja customer service dengan cepat memberikan serangkap form untuk kuisi dan menjelaskan bagian mana saja yang wajib dilengkapi. Kemudian setelah selesai dia menyuruhku untuk menuju ke meja lain yang dihandle oleh seorang wanita pirang yang juga tak kalah tangkasnya melayani dan menjelaskan proses demi proses dengan cepat dan mudah. Dan voila..... Sejenak kemudian, aku sudah punya rekening di sana. KU ID ku juga sudah diprogram untuk menjadi kartu ATM cadangan. Plus satu lagi, aku mendapatkan sebuah baju kaos rock chalk-nya jayhawk berwarna biru. Kartu debit yang juga berfungsi sebagai ATM akan bisa kuambil besoknya.

Selasa besoknya, aku mengambil kartu debit yang dijanjikan tersebut. Ternyata sebelumnya, aku disuruh dulu memilih motif kartunya serta warna apa yang diinginkan. Tak lama kemudian, aku sudah mendapatkan kertu debit VIsa versi Commerce Bank dengan latar kartu berwarna biru dan bergambar bangunan kuno KU. Satu lagi hal yang akan mempermudah ku berkuliah di sini sudah kudapatkan. Yang lain-lainnya akan segera menyusul.

Kemudian dengan tergesa-gesa aku masuk ke kelas Systematic and Macro-Evolution.. ternyata hari ini ada presentasi dari E Wiley yang bukunya "Phylogenetics: Theory and Practice of Phylogenetic Systematics" kami pakai dalam perkuliahan tersebut. Aku yang belum beli buku tersebut terpaksa agak kecewa karena teman-teman yang sudah punya buku tersebut bisa minta tandatangan langsung dari sang penulis buku yang kebetulan memberikan kuliah tamunya hari itu.. Selesai kuliah yang dipandu oleh Paulyn Cartwright tadi, aku diajak oleh Mabel, teman PhD yang dari Peru untuk mengurus SSN kami ke Heather. Aku yang ingin segera menyelesaikan semua hal yang masih mengganjal, mengiyakan saja dan mengikutinya menuju ke Dyche Hall, tempat Museum berlokasi. Untung saja Heather ada di sana dan kami dengan segera bisa menyelesaikan semua urusan, termasuk membuat surat pernyataan kesetaraan pajak untuk kami. Jika tidak ada surat tersebut, maka proporsi pajak untuk kami bisa mencapai 60%, karena dianggap sebagai warga asing. Jika menggunakan surat penyetaraan tersebut, maka prosentasenya bisa menjadi 30%. Heather juga mengisi dan menandatangi form permohonan SSN ku. Sekarang tinggal menuju ke Strong Hall ke bagian resgistrar mahasiswa untuk menyerahkan surat penyetaraan pajak tadi dan kemudian ke kantor ISSS untuk meminta legalisir form permohonan SSN. Sambil berjalan ke sana, Mabel menerangkan bahwa dia mendapatkan banyak bantuan saran dan nasehat dari Chowru yang asal Korea. Katanya dia bermasalah dengan kepengurusan surat-suratnya dan sampai sekarang sudah mengalami 7 kali perubahan I-20. Mabel bilang, bahwa Chowru tidak ingin lagi ada mahasiswa baru yang mengalami nasib seperti dia. Makanya dia banyak membantu Mabel mengurus surat-suratnya.

Di resistrar kami hanya sebentar karena hanya menyerahkan surat tersebut dengan simpel ke seorang petugas. Sedangkan di ISSS, aku harus menunggu adviser yang bisa memberikan panduan tentang form SSN yang kubawa. Mereka baru ada jam 1.30 pm nanti. Jadi kuputuskan untuk masuk ke kuliah Biometric dahulu.

Ternyata profesor John Kelly sudah memulai kelas sejak tadi dan pas aku sampai tengah memasuki masa rehat sebelum paruh kedua kelas dimulai. Aku mengambil tempat duduk di antara Kyungjin dan Chan. Kami mengobrol sedikit terutama tentang kuliah Biometric serta PR pertama kami yang diberikan oleh John Kelly. Ternyata Chan belum selesai mengerjakannya. Sedangkan aku dan Kyungjin sudah sejak kemaren selesai dan sudah saling membandingkan hasil kami satu sama lain. Tak lama kemudian John Kelly kembali masuk dan kelas dilanjutkan. Ternyata, dilanjutkannya dengan diskusi pribadi langsung antara mahasiswa yang sudah ditentukan pada kuliah hari selasa minggu lalu. Aku melihat Kate Ingenloff lagi ngomong sama Prof. John Kelly. Dan setelah itu, aku yang dipanggil. Waduh, aku lupa bahwa namaku sudah diumumkan sebelumnya. Tapi dengan PEDE aku tetap ke depan kelas, menemui profesor muda yang lincah itu. Bahan diskusi yang kubawa di dalam otakku adalah tentang masalah pengukuran parameter spesimen burung yang selama ini kulakukan, termasuk bagaimana mengatasi permasalahan jumlah sampel yang tak seragam di beberapa lokasi. Banyak hal lain yang kutanyakan tentang masalah statistik dan pengambilan sampel kepadanya. John Kelly menjawab dengan panjang lebar serta menggunakan banyak contoh yang mudah dimengerti. Aku sangat kagum padanya yang memang mumpuni di bidangnya tersebut.

Selesai dari kelas Biometric, aku kembali menuju ke Strong Hall untuk mencari adviser yang akan menangani form SSN ku. Untung saja tidak lama menunggu, aku bisa menemui salah seorangnya yang bernama Lenny... Dia segera membuka file ku yang ada di homepage universitas dan melihat data-dataku. Setelah yakin bahwa semua hal tentangku beres, dia segera menandatangani permohonan SSN ku tadi dan menyerahkan kembali kepadaku. Niatku hari itu adalah untuk menyelesaikan dengan tuntas tentang SSN ku dengan pergi ke kantor Social Security Office yang ada di Wakarusa, sekitar 10 km dari Lawrence. Ternyata bis dari kampus yang menuju ke sana jarang sekali lewatnya. Bisnya bernomor jalur 10 dan biasanya datang sekali 30 menit, sampai pukul 5 pm. Tapi karena aku selesai dari ISSS jam dua dan akan masuk Department Seminar jam 3.30 pm, maka waktu yang sedikit tersebut sangat mepet. Bis nomor 10 itu juga gak datang-datang. Akhirnya kuputuskan untuk naik bis nomor 30 ke Bob Billing yang juga menuju jalur yang sama, tapi berhenti lebih dahulu sebelum Wakarusa. Di atas bis baru kusadari aku telah sangat salah mengambil bis itu, karena Bob Billing sangat jauh dari Wakarusa sehingga kalau berjalan kaki mungkin akan memakan waktu sangat lama dan dengan resiko capek berjalan, tapi pas sampai di SSO, kantor itu sudah tutup. Maka kuputuskan untuk turun di tengah jalan, di Westerbrook dan menunggu bis 10, kalau-kalau ada. Ternyata bis nomor 10 yang dimaksud tidak datang-datang juga, sementara jarum jam semakin mendekati angka 3. Sudah lah, kuputuskan untuk kembali ke kampus dan menunggu bus nomor 30 yang balik dari Bob Billing menuju ke Main Campus.

Jadilah hari itu aku berputar-putar keliling Lawrence cukup jauh. Melebihi jalur biasa yang sering kutempuh....

haaaahhh.... Asli capek...

Ohya, aku juga capek nulis note nya...

Nanti dalam note selanjutnya akan kuceritakan tentang berbagai kebiasaan orang-orang di sini.. Termasuk pertemuan dengan orang-orang Indonesia yang akhirnya nongol juga di Lawrence ini... Sementara ini dulu yaa....


Rabu, 24 Agustus 2011

Very First Day on Course


Aku terkena flu lagi....

Sejak tinggal di McCollum ini, aku selalu menderita bersin-bersin yang berkepanjangan, hidung meler dan mata merah. Aku rasa karena faktor jetlag yang belum sepenuhnya hilang akibat pergantian daerah geografis belum bisa ditolerir oleh kinerja tubuh. Tapi sebagian teman Asia lain, alumni McCollum, bilang karena dormitory yang satu itu dingin udara di dalamnya udah kelewat ambang batas untuk manusia tropis macam aku ini....

Jadilah tiap ada di ruang lobby ini untuk mengakses internet aku bersin beberapa kali berturut-turut, diikuti dengan pandangan rese' dari beberapa "chicks" yang juga lagi ngenet di sekitar ku... Di kamar juga bersin.. Di bathroom juga bersin.. Lewat di hallway menuju ke main room juga bersin.. Udara dingin memang sepertinya jadi pemicu utama dari flu kontemporer ini. Belakangan saja aku baru menemukan sedikit solusi yang lumayan ampuh, minyak angin aroma terapi Freshcare yang sempat kubawa satu botol ke Amrik sini... Itupun berkat anjuran dari Mardoni, mahasiswa angkatan 2004 yang dulu pernah memakaikannya ke diriku waktu lagi pegal-pegal. Aroma hangat dan wanginya paling tidak membuyarkan konsentrasi kompresi di belakang tonsil ku, sehingga bisa menunda bersin, paling tidak sampai hangatnya habis...


Aku juga menemukan bahwa faktor dingin yang menggigit dan membuatku menggigil ini bisa ditekan dengan menggunakan lotion untuk tubuh dan wajah. Ini karena semalam aku berbincang-bincang dengan Bapak yang dari Malaysia yang beberapa hari yang lalu aku temui di dapur Islamic Center (for the record: nama beliau bukan Marlin Dian Laksitorini.. Yang namanya kusebut barusan adalah seorang wanita asal Jawa, kemungkinan istri Beliau. Sedangkan nama di Bapak itu sendiri aku juga gak tahu--Mungkin lupa, aku kan pelupa). Efek dari lotion ini barusan saja kurasakan, karena ketika bangun tadi pagi untuk sahur dan beruduk, dinginnya terasa minta ampun. Setelah shalat Shubuh dan kemudian iseng-iseng kupakai lotion itu di badan dan wajah, mendadak rasa dingin yang kurasakan menjadi jauh berkurang. Mudah-mudahan saja efek ini bukan efek temporer, karena paling tidak aku akan tinggal di McCollum ini selama sebulan atau sampai aku bisa menemukan apartment baru.

Ohya, sebelum berkisah tentang hari pertama kuliah ku kemaren, aku mungkin akan memperkenalkan dua sosok baru yang selalu menemaniku kala ngenet di lobby McCollum. Mereka adalah Daisy dan Mimi... He he he, jangan ngeres dulu.. Mereka bukan hot chick atau gadis-gadis setempat yang kemana-mana di musim panas ini (konfirmasi sekali lagi: ternyata sekarang bukan musim gugur, tapi masih panas. Musim gugur baru mampir tanggal 22 September nanti) selalu pake hotpant n toptank.. Mereka ada dua ekor lalat (langau bagi yang berlidah Minang totok)... Ha ha ha.. Desperately separating as newly wed.. Ha ha ha.. Si Daisy ini suka menggangguku kalau lagi ngenet di bangku yang dekat meja pingpong... Kalau si Mimi suka mampir kalau aku ngenet di meja dinding yang nempel di dekat tangga dorm. Ajaibnya, mereka berdua adalah lalat pertama yang kulihat di Amrik ini dan lebih ajaibnya lagi, mereka berdua gak pernah kena kalau kutemplok pake tangan atau pake alat bantu yang ada. Berhubung di sini gak boleh pake alat-alat kimia untuk membunuh serangga tanpa supervising dari para ahlinya, akhirnya aku mencoba berdamai dengan mereka berdua.. Asal jangan lebay aja menggerayangi tubuhku.... He he he he....

Naah, sekarang masuk ke pengalaman pertama kuliahku. Selasa 22 Agustus, pukul 09.30 waktu Kansas, aku secara resmi kembali menyandang gelar mahasiswa. Pake celana kanvas yang luntur karena tukang cuciku salah ngasih cairan bleaching yang dikiranya adalah softener pengharum, sehingga yang mula-mula berwarna green moss itu mendadak mirip dengan green army.. Kalau kupakai di Indonesia mungkin sudah jadi bahan ketawaan, tapi kalau di sini, seperti yang sudah kubilang, masa bodoh dengan orang lah.. Yang penting style still going on.... He he he.. Sebagai padanannya, kupakai kaos abu-abu berkerah. Dan tidak lupa, jaket kubawa di dalam tas, untuk mengantisipasi jika ruangan kuliahnya juga dingin. Maklum, orang tropis udik yang baru seminggu lebih di Amerika ini belum bisa mengantisipasi kondisi cuaca setempat.

Setelah pede dengan style tersebut, aku lalu melangkah ke luar menuju ke halaman McCollum, mencegat bis kampus KU yang berwarna biru royo-royo. Selama hari-hari aktif kuliah dari Senin sampai Jum'at, bis ini akan datang sekali 10 menit. Kebetulan pas aku sampai di halaman McCollum, satu bis lagi nongol, menunggui mahasiswa yang akan berangkat ke kampus masing-masing. Dengan ramah dia langsung menanyakan kabarku dan akan kemana pagi ini. Tadi pagi pas sahur kulihat jadwal kuliah untuk pagi ini adalah Systematic and Macroevolution yang akan dilaksanakan di Dole Human Development Center 4014. Setelah kulihat di peta, ternyata gedung itu berada di sebelah Haworth, tempat dua kuliah berikutnya dilaksanakan. Jadi, artinya dia akan lewat di Sunnyvile Drive. Pak Sopir yang ramah itu bilang bahwa bis ini (nomor rutenya 43 Blue) tidak melewati daerah tersebut. Alternatif tercepat, katanya kalau aku lagi buru-buru, adalah dengan berjalan langsung ke arah Dole HDC tersebut dengan menuruni Daisy Hill ini. La iya lah Pak, kan jarak terdekat antara dua titik adalah garis lurus yang menghubungkan keduanya...?? Tapi aku kan lagi puasa, jadi agak mmoh untuk jalan kaki. Kuminta Pak Sopir itu untuk nanti menurunkan aku di titik terdekat ke Dole HDC dan selanjutnya aku akan berjalan kaki.

Setelah ngetem beberapa menit lagi, akhirnya bis tersebut mulai bergerak, melalui setiap dormitory mahasiswa yang terletak di Daisy Hill ini. Pak Sopir itu memperkenalkan diri, bahwa dia yang akan menjadi sopir bis tersebut selama semester ini. Kelihatannya Pak Sopir yang udah manula ini, orang yang periang. Dia selalu menyanyi dan bersiul sambil mengendarai bisnya. Saban melihat cewek cakep, dia sapa. Di dalam bis KU ini disediakan pengeras suara yang corongnya diletakkan di dekat Sopirnya, sehingga setiap kali akan mencapai sebuah halte, sang Sopir akan segera mengumumkan perhentiannya tersebut kepada penumpang. Sedangkan di bangku penumpang sendiri ada semacam kawat kuning yang terhubung satu sama lainnya di masing-masing bangku penumpang, sehingga setiap orang yang akan berhenti sedikit di luar titik perhentian tersebut bisa menarik untaian kawat tersebut dan sinyal berhenti akan menyala di dekat sopir.. Ha ha ha.. Beda dengan bis kampus unand, yang kalau mau berhenti harus mengetuk bagian atas bis atau pakai tepuk tangan.. Di sini semua serba pasti, jadi kalau mau berhenti, sebaiknya berhentilah di tempat yang sudah ditentukan. Walaupun bisa berhenti di tempat yang kita inginkan dengan menarik kawat tanda berhenti tadi, biasanya para sopir jarang yang mau menurunkan di luar tempat yang sudah ditentukan.

Dole HDC Building
Jadilah aku naik bis itu sampai ke perhentiannya yang di persimpangan Learned Hall (gedung ini milik fakultas Teknik). Dari sana, aku berjalan di sepanjang Sunnyvile Drive dan sampai ke Dole HDC kira-kira setengah jam dari jadwal yang sudah ditentukan. Aku segera naik ke lantai 4, untuk mencari ruang kuliah yang dimaksud dengan menggunakan lift. Sampai di lantai 4, di ruang tunggunya kulihat ada seorang gadis lagi duduk membaca. Aku teruskan saja mencari ruangan 4014 yang dimaksud, berdasarkan petunjuk ruangan yang tersedia. Tapi ternyata, setelah dua kali bolak-balik ke masing-masing saya gedung dan melewati gadis yang lagi duduk membaca tadi, aku belum juga menemukan ruangan yang dimaksud. Pas sekali lagi lewat, gadis itu menegurku, "Are you looking for room 4014? It's over there.." Katanya sambil menunjuk ke dalam ruangan jurusan Human Resource.... Lha, pantasan gak ketemu. Yang kupikirkan ruangan kuliah berukuran besar, ternyata ruangan yang dimaksud adalah ruangan kecil berukuran 6 x 6 meter dan diperuntukan untuk ruang diskusi. Karena waktu yang masih panjang dan belum ada nampaknya yang datang, aku duduk menghampiri si gadis tadi yang memperkenalkan dirinya bernama Megan (bukan Megan Fox dong, kalau iya, wah, bisa pingsan diriku). Dia berasal dari jurusan Paleontology, ruangannya kira-kira dua tingkat nanti di bawah ruanganku di the Natural History Museum. Dia mengambil kelas yang sama denganku di pagi ini. Sebelumnya dia merupakan mahasiswa bachelor jurusan yang sama di Universitas Kecil yang ada di Kansas ini. Sebagai catatan, terdapat puluhan universitas swasta di Kansas dan negara bagain Amrik ini. Mungkin yang terkenal memang yang sering nampang di directory pencarian universitas terkenal saja. Tapi sebenarnya, terdapat ratusan universitas di sini. Si Megan tadi juga dengan berbaik hati membantuku mencarikan buku panduan untuk kuliah ini melalui website universitas..

Tak berapa lama, datang Kin Onn Chan yang dari Malaysia. Dia juga kebingungan mencari ruangan kuliah yang sama. Katanya dia mau lihat-lihat saja dulu untuk kali pertama ini, sebelum memutuskan untuk mengambilnya atau tidak. Setelah berbincang-bincang beberapa saat, datang lagi serombongan orang dipimpin seorang wanita yang mengapit laptop di dadanya. Kayaknya mereka juga mencari ruangan yang sama. Megan kembali menegur dan menyapanya serta menunjukkan ruangan yang dimaksudkan. Mereka berombongan segera menuju ke ruangan tersebut. Aku, Megan dan Chan juga mengikuti mereka, karena waktu untuk kuliah sudah dimulai

Dole HDC 4014
Ternyata wanita yang mengapit laptop tadi adalah dosennya. Sekali lagi, karena pakaiannya yang sangat formal jika dibandingkan dengan jabatannya sebagai tenaga pengajar di Universitas yang bergengsi ini, tentunya sangat berlawanan kalau dilihat dari kacamata orang Indonesia sepertiku yang sudah biasa disuguhi pemandangan, bahwa tampilan luar selalu harus lebih diutamakan daripada "isi" di dalamnya.. Ha ha ha.. Si wanita tadi masih menunggu beberapa saat untuk menantikan mahasiswa yang kemungkinan akan datang. Dia mengatakan bahwa sebenarnya mereka (dosen untuk mata kuliah ini lebih dari satu orang, lima orang plus satu orang dosen tamu) menginginkan perkuliahan di Haworth Hall, tapi udah keburu penuh dan mereka tergeser ke gedung tetangganya ini. Setelah tidak ada lagi mahasiswwa yang diperkirakan akan datang, sang Dosen membuka kelasnya. Dia memperkenalkan dirinya bernama Paulyn Cartwright, Associate Professor (atau asisten Professor) di EEB ini. Kemudian seluruh mahasiswa diminta untuk memperkenalkan diri satu persatu, biasanya dengan standard nama, department dan supervisor. Setelah semua memperkenalkan diri, Paulyn mulai menerangkan syllabus perkuliahan yang versi printed nya sudah dibagikan di awal perkuliahan. Secara ringkasnya, kuliah ini akan meliputi pemberian lecture oleh para dosennya, kemudian ada sesi reading nya dan juga ada exam nya... Untuk yang terakhir ini, para mahasiswa sepakat untuk melakukannya dalam bentuk short-essay, bukan dengan membuat paper. Haaaahh.. Oke lah....

Paulyn Cartwright Paulyn Cartwright; Ecology and Evolutionary Biology 01-13-2005 ©The University of Kansas/Office of University Relations Credit: Doug Koch file name: CartwrightPaulyn_04409 in archive folder: 04409_Portraits ©The University of Kansas/Office of University Relations

Kuliah dengan Paulyn tidak berlangsung lama, karena hanya bersifat introduction. Setelah meninggalkan pesan bahan bacaan untuk pertemuan selanjutnya, kelas kami pun bubar. Aku menuju ke restroom dulu, karena suhu yang dingin mau tak mau membuat vesica urinaria jadi terisi dengan cepat. Karenanya, aku ditinggal oleh Chan dan lain-lain yang segera menuju ke ruang kuliah berikutnya di Haworth 2025 untuk kelas Biometry dengan John Kelly. Di sepanjang hallway lantai 2 tersebut sudah banyak menunggu mahasiswa yang akan kuliah. Sementara ruang kuliahnya sendiri masih dipakai oleh kuliah yang sebelumnya. Sekitar pukul sebelas kurang, kelas tersebut bubar dan kami yang akan mengambil Biometric bisa masuk dan duduk mengambil bangku yang kami sukai. Ternyata kelas ini adalah kelas besar. Hampir lebih dari 30 orang mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, termasuk EEB, Paleontology, Engineering, Psychology dan Environmental Science tumplek blek ke dalamnya. Aku juga menjumpai kenalan-kenalan sejurusan ku di sana; Robyn (akhirnya aku bisa mengembalikan kunci duplexnya karena sejak pindah ke McCollum, belum sempat berkunjung ke sana), Kate, Patrick, Mabel, Kyungjin termasuk Chan. Tidak beberapa lama, masuk dosennya, John Kelly. Orangnya masih muda juga, paling lewat dari 40an umurnya. Memakai dasi merah dengan kemeja putih dan celana jeans. Cukup formil dibandingkan dengan dosen-dosen sebelumnya yang kujumpai...

Setelah jam sebelas lewat, John langsung membuka kelasnya. Ternyata dia berlogat Selatan, yang ngomongnya sangat cepat dan nada bicara yang tegas. Setelah ngomong satu "chapter" dia akan bertanya "any question" kepada setiap attendant di kelasnya. Kemudian dilanjutkan dengan absensi, sekalian dia menanyakan nama, nama panggilan, department dan supervisor. Kemudian dia menerangkan syllabus, system perkuliahan serta praktikum yang akan dilakukan. Dia juga menyebutkan Patrick Monnahan (yang kujumpai lagi ngasih makan kakatua nya Robyn saban hari) sebagai TA atau Teaching Assistant nya. Kelas yang ini pun juga tidak terlampau lama berjalan. John yang berbicara dengan tempo cepat khas logat Selatannya menutup kelas kembali dengan "Any Question.."

Di luar kelas, Kyungjin yang dari Korea mengeluhkan bahwa dia hampir tidak memahami sama sekali apa yang disampaikan John di dalam kelas tadi. Akupun menghiburnya dan bilang bahwa akupun hampir sama dengannya. Ha ha ha...
Kyungjin Min

Kelas berikutnya ada di pukul 3.30 pm. Artinya ada beberapa jam lowong. Aku memutuskan untuk ke Kansas Union, meminta KU Card ku yang merupakan barang penting di sini.. Berjalan dikit, aku sampai di gedung yang terbuat dari batas merah tersebut. Aku langsung menuju ke KU Card Center tersebut dan menanyakan apakah aku sudah bisa membuat KU Card ku.. Dia menanyakan ID card ku atau passport. Setelah kuberikan passport, dia segera mencarinya di database dan ternyata aku sudah bisa membuat KU Card.. Kemudian aku dipersilahkan duduk di salah satu bangku yang ada di depan kamera.. Dalam hitungan tiga aku dijepret dan satu menit kemudian, jadi lah kartu mahasiswa ku ini... Lagi-lagi berbeda dengan proses yang sama di Universitas ku yang bisa mencapai beberapa hari bahkan sampai beberapa minggu. Hu hu hu....

My KU Card, finally..

Kemudian karena di samping KU Card Center ada Commerce Bank, aku jadi berniat untuk membuka akun di sana. siapa tahu nanti diperlukan untuk pembayaran uang kuliah dan sebagainya. Lalu setelah bertanya dengan petugas yang ada di sana, aku diberikan serangkap formulir untuk diisi. Aku membawanya ke meja dekat tempat orang-orang biasa duduk. Saat sedang mengisinya, aku melihat seorang pemuda yang biasa kujumpai di Islamic Center. Dia memberi salam dan kemudian menanyakan sedang apa. Saat tahu apa yang kulakukan, dia menyarankan aku untuk mengecek ke KU Credit Union, semacam Bank Perkreditan khusus untuk mahasiswa, karena katanya lebih praktis dan fasilitas yang disediakan lebih mendukung untuk kehidupan mahasiswa. Yaaah, aku juga jadi mempertimbangkannya. Oke lah, karena letak Kansas Union tadi agak jauh, yaitu di Naismith 23rd Dr, aku jadi malas ke sana. Nanti sajalah saat aku sudah mempunyai Social Security Number. Itupun setelah supervisor ku yang satu lagi, Townsend Peterson kembali dari lapangan. Karena tidak ada lagi yang bisa kukerjakan di sini, lagian juga kalau terlampau lama di sini godaannya cukup besar. Bukan hanya "dagangan" para hotchick di sini yang ngebrojol dimana-mana... Tapi juga karena gedung Kansas Union ini adalah sentra tempat makan di KU, jadi dimana-mana orang-orang yang non muslim lagi makan siang... Hwadoooh....

Aku memutuskan kembali ke McCollum. Buat tidur...

Jam tiga, aku kembali nyari bis buat ke Haworth 1005 untuk mengikuti Department Seminar... Sebenarnya kuliah yang ini berisi presentasi dari para mahasiswa tingkat lanjut yang sedang mengerjakan thesis atau disertasinya... Jadi mereka membuat semacam seminar kecil-kecilan dengan menampilkan sebagian dari penelitian mereka. Untuk kali ini ada tiga orang yang memberikan tampilan, yaitu Sarah B-R.(Consequences of pollinator loss in Mimulus guttatus); Sarah Schmidt  (Putting together the Prairie Potamoplankton puzzle) dan Charles Linkem (Molecular systematics of forest skinks (Scincidae: Sphenomorphus group): challenges of large data matrices in phylogenetics). Presentasi ini dibawakan dalam ruangan bertipe theater dengan susunan bangku yang menurun ke bawah. Yang hadir ramai sekali, mulai dari mahasiswa sampai ke seluruh staff dosen yang ada. Juga sebelum mulai, ada cookie dan coffee yang diberikan sebelum hadirin masuk. Kami yang mahasiswa baru EEB juga sempat diperkenalkan kepada seluruh hadirin sebelum presentasi pertama dimulai.

Penampilan ketiga presenter tadi terhitung bagus. Aku yang duduk bersama dengan Mabel, Kyungjin dan Jin berdecak kagum dengan kepintaran mereka dalam mengolah hasil penelitian dan menampilkannya, serta kemudian menampilkannya. Sebenarnya untuk para penampil di dalam Department Seminar ini tidak ada diberikan grade A atau apa, tapi ini lebih merupakan semacam ajang pemanasan sebelum mereka melakukan defense di depan panelis sidang doktoral mereka. Sedangkan untuk mahasiswa yang mengambilnya sebagai salah satu mata kuliah, penilaian didasarkan nanti pada tingkat kehadirannya saja. Wuiih, mantap.. mantap.. mantap.... Aku dan Kyungjin sampai-sampai ragu akankah kami bisa melakukan presentasi macam itu nanti di masa yang akan datang??

Setelah itu, aku ditemani oleh Kyungjin ke Anschutz Library untuk mencari buku bacaan untuk Biometric. Katanya mungkin masih ada beberapa eksemplar di san. Tapi setelah dicek dengan petugasnya, termasuk dengan usaha untuk mencari yang versi fotocopy an nya.. Nihil... Nampaknya aku memang harus membeli juga satu nih, walau harganya yang lumayan tinggi buat kantongku yang semakin singset dari hari ke hari ini akan membuatku makin mengetatkan ikat pinggang... He he he....

Setelah selesai kuliah terakhir ini, aku berjalan pulang ke McCollum, sekallian bareng dengan Kyungjin yang satu arah di Jayhawk Tower.. Kemudian sesampai di McCollum, aku hampir-hampir terkapar, karena saking capeknya hari ini kuliah tiga kali dalam keadan puasa.. Untung saja aku sempat nyetel alamr HP untuk bangun lebih awal, sehingga ketika sampai di Islamic Center sorenya, bertepatan sekali dengan waktu buka...

Aku langsung ketemu dengan si Bapak dari Malaysia, Azhar dan Zahri (yang ini pasangan duonya Azhar, baru aku tahu namanya kemaren). Biasa, berbuka dengan yang manis-manis kayak korma dan susu non fat.. Kemudian makan besarnya setelah shalat Maghrib.

Kembali hari ini aku menemukan satu fakta yang cukup mengesalkan tentang orang Arab, terutama anak-anak dan pemudanya.. Mereka kalau ngambil makanan suka melimpah ruah dari piringnya, tapi kemudian gak mereka habiskan. Ini kelihatan saat membereskan piring-piring kotor, biasanya piring yang ada di meja tempat mereka ngumpul selalu bersisa makanannya banyak. Sampai-sampai si Bapak dari Malaysia marah-marah dan bilang, "Dasar anak-anak keturunan "Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu Sofyan..!!" Iya sih, aku lihat mereka memang agak kurang juga dalam masalah etika dan kesopanan. Kalau makan, di samping bersisa banyak, mereka juga suka membuang remah-remah atau sisa makanannya secara sembarangan di meja tempat mereka makan. Terus mereka juga suka mengambil makanan, hanya sekedar karena mereka pengen bersaing mengambilnya, bukan karena mereka butuh... Di samping itu, mereka juga kurang hormat dengan orang-orang tua yang non Arab... Kayaknya anggapan mereka bahwa bangsa non Arab lebih rendah dari mereka berlaku juga tuh... Gak heran mereka memperlakukan para TKW kita dengan semena-mena sehingga banyak kejadian seperti kasus Ruyati yang baru-baru ini terjadi. Oh ya, ngomong-ngomong soal Ruyati, kemaren aku ada melihat di Youtube video pemenggalannya yang disiarkan oleh sebuah stasiun televisi di Iran.. Wiih, bener-bener sekejap mata saja langsung putus tuh... Dan algojonya melakukannya tanpa ragu. Aku saja sampai ngeri setiap teringat...

Haah... Malam ini aku benar-benar terkena feedback dari jetlag dan kondisi tubuh yang kurang stabil.. Saat shalat tarawih beberapa kali sempoyongan hampir jatuh karena menahan kantuk dan kondisi body yang benar-benar tidak fit...

Hhhh... Untung Rabu ini istirahat...

Mudah-mudahan Kamis besok sudah siap tempur lagi....